Jumaristoho's Blog

Just another WordPress.com site

ETIKA PROFESI AKUNTANSI

AKUNTANSI SEBAGAI PROFESI DAN PERAN AKUNTAN.

Profesi akuntansi merupakan sebuah profesiyang menyediakan jasa atestasi maupun non atestasi kepada masyarakat dengan dibatasi kode etik yang ada. Akuntansi sebagai profesi memiliki kewajiban untuk mengabaikan kepentingan pribadi dan mengikuti etika profesi yang telah ditetapkan. Kewajiban akuntan sebagai profesional mempunyai tiga kewajiban yaitu:

1. kompetensi

2. objektif

3. mengutamakan integritas

Yang dimaksud dengan profesi akuntan adalah semua bidang pekerjaan yang mempergunakan keahlian di bidang akuntansi, termasuk bidang pekerjaan akuntan public, akuntan intrn yang bekerja di pemerintahan, dan akuntan sebagai pendidik.

Dalam arti sempit, profesi akuntan adalah lingkup pekerjaan yang dilakukan oleh akuntan sebagai akuntan public yang lazimnya terdiri dari pekerjaan audit, akuntansi, pajak dan konsultan manajemen.

Prinsip etika yang tercantum dalam kode etik akuntan Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. Tanggung Jawab profesi
  2. Kepentingan Publik
  3. Integritas
  4. Objektivitas
  5. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
  6. Kerahasiaan
  7. Perilaku Profesional
  8. Standar Teknis.

 

Peran akuntan dalam perusahaan tidak bisa terlepas dari penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dalam perusahaan. Meliputi prinsip kewajaran (fairness), akuntabilitas (accountability), transparansi (transparency), dan responsibilitas (responsibility).

 

Peran akuntan antara lain:

1. Akuntan Publik (Public Accountants)

Akuntan public atau juga dikenal dengan akuntan eksternal adalah akuntan independen yang memberikan jasa-jasanya atas dasar pembayaran tertentu. Mereka bekerja bebas dan umumnya mendirikan suatu kantor akuntan.

2. Akuntan Intern (Internal Accountant)

Akuntan intern adalah akuntan yang bekerja dalam suatu perusahaan atau organisasi. Akuntan intern ini disebut juga akuntan perusahaan atau akuntan manajemen. Jabatan tersebut yang dapat diduduki mulai dari staf biasa sampai dengan kepala bagian akuntansi atau direktur keuangan.

3. Akuntan Pemerintahan (Government Accountants)

Akuntan pemerintah adalah akuntan yang bekerja pada lembaga-lembaga pemerintah, misalnya dikantor Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan Pengawas Keuangan (BPK).

4. Akuntan Pendidik

Akuntan pendidik adalah akuntan yang bertugas dalam pendidikan akuntansi, melakukan penelitian dan pengembangan akuntansi, mengajar, dan menyusun kurikulum pendidikan akuntansi di perguruan tinggi.

5. Akuntan Manajemen

Akuntan manajemen merupakan sebuah profesi akuntansi yang biasa bertugas atau bekerja di perusahaan-perusahaan. Akuntan manajemen bertugas untuk membuat laporan keuangan di perusahaan.

6. Konsultan SIA / SIM

Salah satu profesi atau pekerjaan yang bisa dilakukan oleh akuntan diluar pekerjaan utamanya adalah memberikan konsultasi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan sistem informasi dalam sebuah perusahaan.

 

Ekspektasi Publik

 Masyarakat umumnya mempersepsikan akuntan sebagai orang yang profesional dibidang akuntansi. Ini berarti bahwa mereka mempunyai sesuatu kepandaian yang lebih dibidang ini dibandingkan dengan orang awam. Selain itu masyarakat pun berharap bahwa para akuntan mematuhi standar dan tata nilai yang berlaku dilingkungan profesi akuntan, sehingga masyarakat dapat mengandalkan kepercayaannya terhadap pekerjaan yang diberikan. Dengan demikian unsur kepercayaan memegang peranan yang sangat penting dalam hubungan antara akuntan dan pihak-pihak yang berkepentingan.

Perubahan ekpektasi publik terhadap bisnis akan mempengaruhi ekspektasi publik terhadap peran akuntan. Trade Off antara akuntan sebagai bagian dari perusahaan dan sebagai penjaga kepentingan publik bisa dikatakan sulit. Pada satu sisi, akuntan sebagai bagian dari perusahaan diharapkan mampu dalam memenuhi tanggung jawabnya sebagai karyawan dalam sebuah perusahaan, sisi lainnya adalah publik mengharapkan agar akuntan juga tetap profesional dan memegang teguh nilai-nilai objektivitas, Integritas dan kerahasiaan untuk melindungi kepentingan publik.

Nilai – nilai Etika vs Teknik Akuntansi / Auditing

 

Nilai-nilai etika terdiri dari :

  1. Integritas : setiap tindakan dan kata-kata pelaku profesi menunjukan sikap transparansi, kejujuran dan konsisten.
  2. Kerjasama : mempunyai kemampuan untuk bekerja sendiri maupun dalam tim
  3. Inovasi     : pelaku profesi mampu memberi nilai tambah pada pelanggan dan proses kerja dengan metode baru.
  4. Simplisitas: pelaku profesi mampu memberikan solusi pada setiap masalah yang timbul, dan masalah yang kompleks menjadi lebih sederhana.

Sedangkan Teknik akuntansi (akuntansi technique) adalah  aturan aturan khusus yang diturunkan dari prinsip prinsip akuntan yang menerangkan transaksi transaksi dan kejadian kejadian tertentu yang dihadapi oleh entitas akuntansi tersebut.

 

PERILAKU ETIKA DALAM PEMBERIAN JASA AKUNTAN PUBLIK

Dari profesi akuntan public inilah masyarakat keditur dan investor mengharapkan penilaian yang bebas, tidak memihak terhadap informasi yang disajikan dlam laporan keuangan oleh manajemen perusahaan. Profesi akuntan publik menghasilkan berbagai jasa bagi masyarakat, yaitu:

-jasa assurance adalah jasa professional independen yang meningkatkan mutu informasi bagi pengambil keputusan.

-jasa atestasi terdiri dari audit, pemeriksaan (examination), review, dan prosedur yang disepakati (agreed upon procedure). Jasa atestasi adalah suatu pernyataan pendapat, pertimbangan orang yang independen dan kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai dalam semua hal yang material, dengan kriteria yang telah ditetapkan.

-jasa nonassurance adalah jasa yang dihasilkan oleh akuntan publik yang di dalamnya ia tidak memberikan suatu pendapat, keyakinan negative, ringkasan temuan, atau bentuk lain keyakinan.

 

 

Setiap profesi yang menyediakan jasanya kepada masyarakat memerlukan kepercayaan dari masyarakat yang dilayaninya. Kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa akuntan publik akan menjadi lebih tinggi, jika profesi tersebut menerapkan standar mutu tinggi terhadap pelaksanaan pekerjaan profesional yang dilakukan oleh anggota profesinya. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik merupakan etika profesional bagi akuntan yang berpraktik sebagai akuntan publik Indonesia. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik bersumber dari Prinsip Etika yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.

 

SUMBER :

 

http://kautsarrosadi.wordpress.com/2012/01/31/perilaku-etika-dalam-profesi-akuntansi/

http://kinantiarin.wordpress.com/etika-profesi-akuntan/

http://noviyuliyawati.wordpress.com/2013/10/23/perilaku-etika-dalam-profesi-akuntansi/

http://septianidwii.blogspot.com/2012/10/perilaku-etika-dalam-profesi-akuntansi.html

 

 

 

 

 

 

 

ETHICAL GOVERNANCE

Etika (Yunani Kuno: “ethikos“, berarti “timbul dari kebiasaan“) adalah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab

Pemerintahan menurut para ahli :

C.F. Strong

Pemerintah adalah organisasi tertinggi dalam negara yang mempunyai kekuasaan legislatif, kekuasaan eksekutif, dan kekuasaan kehakiman

J.A. Corry

Pemerintah merupakan pengejawantahan yang konkret dari negara yang terdiri dari badan-badan dan orang-orang yang melaksanakan tujuan-tujuan negara

Muchtar Affandi

Pemerintah merupakan suatu organisasi teknis yang dilengkapi kewenangan-kewenangan tertentu yang diperlukan untuk pengaturan dan pelaksanaan fungsi-fungsi pemeliharaan tatanan yang teratur.

Jadi etika pemerintahan adalah kesepakatan bersama tentang nilai-nilai moral dalam penyelenggaraan pemerintahan yang meliputi :Good governance, Pemerintahan yang bersih (clean government),Transparansi, Pelayanan yg baik ,Efesiensi, Small government, Proporsional.

BUDAYA ETIKA

Pada saat ini topik tentang pengembangan budaya etika menjadi pembicaraan di kalangan para pemimpin perusahaan kelas dunia baik di Amerika maupun Eropa. Tujuan pengembangan budaya etika adalah meningkatkan kualitas kecerdasan emosional, spiritual dan budaya yang diperlukan oleh setiap pemimpin bisnis sehingga dapat memperlancar proses pengelolaan bisnis yang digeluti. Oleh karena itu mereka meyakini bahwa hanya budaya etikalah yang dapat menyelamatkan bisnis mereka di masa depan. Hal ini muncul dari hikmah atas peristiwa krisis ekonomi dan keuangan dunia yang berawal di Amerika dimana penyebab utama dari peristiwa tersebut adalah tidak berjalannya etika bisnis dengan dukungan manajemen risiko yang kuat. Para ahli manajemen beranggapan bahwa krisis terjadi akibat beberapa perusahaan tidak menerapkan prinsip-prinsip dengan baik dan benar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa belajar dari peristiwa krisis itulah maka pada saat ini para pemain bisnis global semakin menyadari pentingnya mengembangkan budaya etika berbasis prinsip-prinsip dan nilai-nilai perusahaan.

 

MENGEMBANGKAN STRUKTUR ETIKA KORPORASI

Membangun entitas korporasi dan menetapkan sasarannya. Pada saat itulah perlu prinsip-prinsip moral etika ke dalam kegiatan bisnis secara keseluruhan diterapkan baik dalam entitas koporasi, menetapkan sasaran bisnis, membangun jaringan dengan para pihak yang berkepentingan (stakeholders) maupun dalam proses pengembangan diri para pelaku bisnis sendiri. Penerapan ini diharapkan etika dapat menjadi “hati nurani” dalam proses bisnis sehingga diperoleh suatu kegiatan bisnis yang beretika dan mempunyai hati, tidak hanya sekedar mencari utang belaka, tetapi juga peduli terhadap lingkungan hidup, masyarakat, dan para pihak yang berkepentingan (stakeholders).

Kode Perilaku Korporasi

Pengertian Code of Conduct (Pedoman Perilaku)    

Pengelolaan perusahaan tidak dapat dilepaskan dari aturan-aturan main yang selalu harus diterima dalam pergaulan sosial, baik aturan hukum maupun aturan moral atau etika. Code of Conductmerupakan pedoman bagi seluruh pelaku bisnis PT. Perkebunan dalam bersikap dan berperilaku untuk melaksanakan tugas sehari-hari dalam berinteraksi dengan rekan sekerja, mitra usaha dan pihak-pihak lainnya yang berkepentingan. Pembentukan citra yang baik terkait erat dengan perilaku perusahaan dalam berinteraksi atau berhubungan dengan para stakeholder. Perilaku perusahaan secara nyata tercermin pada perilaku pelaku bisnisnya. Dalam mengatur perilaku inilah, perusahaan perlu menyatakan secara tertulis nilai-nilai etika yang menjadi kebijakan dan standar perilaku yang diharapkan atau bahkan diwajibkan bagi setiap pelaku bisnisnya. Pernyataan dan pengkomunukasian nilai-nilai tersebut dituangkan dalam code of conduct.

REFERENSI :

 

http://dianmei.wordpress.com/2013/10/23/governance-system/

http://valueconsulttraining.com/human-resources-training/1910-budaya-etika#axzz2oxz9Bywr

http://jabbarspace.blogspot.com/2013/10/ethical-governance.html

http://albantantie.blogspot.com/2013/10/ethical-governance.html

http://nurdianahasan.blogspot.com/2011/11/ethical-governance.html

http://birokrasi.kompasiana.com/2013/10/04/menurunya-etika-pemerintahan-dalam-eksekutiflegislatifdan-yudikatif-negara-ini-595524.html

 

 

 

Etika Bisnis

A. PENGERTIAN ETIKA BISNIS
 Pengertian Etika Bisnis

Menurut Sim (2003) :
“Etika adalah istilah filosofis yang berasal dari “etos,” kata Yunani yang berarti karakter atau kustom. Definisi erat dengan kepemimpinan yang efektif dalam organisasi, daalam hal ini berkonotasi kode organisasi menyampaikan integritas moral dan nilai-nilai yang konsisten dalam pelayanan kepada masyarakat ”.

Etika Bisnis merupakan suatu cara dalam melakukan kegiatan bisnis. yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan dan masyarakat. Etika bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nilai, norma dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang baik, adil dan sehat dalam membangun kerjasama dengan mitra kerja, pemegang saham dan masyarakat. Dalam suatu perusahaan suatu bisnis yang beretika merupakan prinsip bisnis yang baik, yaitu bisnis dengan kinerja unggul dan berkesinambungan yang dijalankan dengan mentaati kaidah-kaidah etika yang sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku. Etika bisnis dapat menjadi standar dan pedoman bagi karyawan termasuk manajemen dan menjadikannya sebagai pedoman untuk melaksankan pekerjaan yang dilandasi dengan moral yang luhur, jujur, transparan dan sikap profesional.

Perusahaan meyakini prinsip bisnis yang baik adalah bisnis yang beretika, yakni bisnis dengan kinerja unggul dan berkesinambungan yang dijalankan dengan mentaati kaidah-kaidah etika sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
 Tiga pendekatan dasar dalam merumuskan tingkah laku etika bisnis, yaitu :
1. Utilitarian Approach : setiap tindakan harus didasarkan pada konsekuensinya. Oleh karena itu, dalam bertindak seseorang seharusnya mengikuti cara-cara yang dapat memberi manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat, dengan cara yang tidak membahayakan dan dengan biaya serendah-rendahnya.
2. Individual Rights Approach : setiap orang dalam tindakan dan kelakuannya memiliki hak dasar yang harus dihormati. Namun tindakan ataupun tingkah laku tersebut harus dihindari apabila diperkirakan akan menyebabkan terjadi benturan dengan hak orang lain.
3. Justice Approach : para pembuat keputusan mempunyai kedudukan yang sama, dan bertindak adil dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan baik secara perseorangan ataupun secara kelompok.

 Hal – hal yang harus diperhatikan dalam menciptakan etika bisnis adalah :
1. Pengendalian diri, pengendalian diri harus tertanam dalam jiwa-jiwa pebisnis yang baik. Dengan adanya pengendalian diri, bisnis yang dijalankan akan sesuai dengan apa yang diharapkan.
2. Pengembangan tanggung jawab social (social responsibility), selain pengendalian diri, tanggung jawab merupakan hal yang terpenting dalam dunia bisnis. Tanpa tanggung jawab, bisnis tidak akan sesuai dengan apa yang diharapkan, keuntungan tidak maksimal dan loyalitas konsumen akan semakin berkurang.
3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi.
4. Menciptakan persaingan yang sehat, sebagai pebisnis yang baik, tidak perlu melakukan kecurangan ataupun tindakan-tindakan lain yang tidak sesuai dengan etika bisnis. Maka, persaingan yang sehat sangat perlu dilakukan untuk setiap pebisnis.
5. Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan”.
6. Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, dan Komisi).
7. Mampu menyatakan yang benar itu benar.
8. Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha ke bawah.
9. Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama.
10. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati.
11. Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hukum positif yang berupa peraturan perundang-undangan.

 Etika bisnis yang harus dipahami dan dilakukan para profesional, antara lain:
1. Sebutkan nama lengkap.
Dalam situasi berbisnis, mitra sebaiknya menyebutkan nama lengkap saat berkenalan. Namun jika namanya terlalu panjang atau sulit diucapkan, akan lebih baik jika sedikit menyingkat.
2. Berdirilah saat memperkenalkan diri.
Berdiri saat mengenalkan diri akan menegaskan kehadiran mitra. Jika kondisinya tidak memungkinkan untuk berdiri, setidaknya mundurkan kursi, dan sedikit membungkuk agar orang lain menilai positif kesopanan motra.
3. Ucapkan terima kasih secukupnya.
Dalam percakapan bisnis dengan siapapun, bos atau mitra perusahaan, hanya perlu mengucapkan terima kasih satu atau dua kali. Jika mengatakannya berlebihan, orang lain akan memandang kalau mitranya sangat memerlukannya dan sangat perlu bantuan.
4. Kirim ucapan terima kasih lewat email setelah pertemuan bisnis.
Setelah mitra menyelesaikan pertemuan bisnis, kirimkan ucapan terima kasih secara terpisah ke email pribadi rekan bisnis Anda. Pengiriman lewat email sangat disarankan, mengingat waktu tibanya akan lebih cepat.
5. Jangan duduk sambil menyilang kaki.
Tak hanya wanita, pria pun senang menyilangkan kakinya saat duduk. Namun dalam kondisi kerja, posisi duduk seperti ini cenderung tidak sopan. Selain itu, posisi duduk seperti ini dapat berdampak negatif pada kesehatan.
6. Tuan rumah yang harus membayar.
Jika mengundang rekan bisnis untuk makan di luar, maka sang mitralah yang harus membayar tagihan. Jika sang mitra seorang perempuan, sementara rekan bisnis atau klien, laki-laki, ia tetap harus menolaknya. Dengan mengatakan bahwa perusahaan yang membayarnya, bukan uang pribadi.

Contoh penerapan moral dalam dunia bisnis:

1. bersaing dentan sehat untuk mencapai target bisnis.
2. memperhatikan kesejahteraan karyawan atau golongan rendah.
3. tidak mudah tergoda dengan godaan yang cenderung akan merugikan

Contoh penerapan etika dalam dunia bisnis :
1. pada saat hari raya para pejabat seperti anggota DPR tidak boleh menerima bingkisan.
2. pada saat hari raya pejabat memberikan santunan pada anak yatim.
3. membuat perencanaan yang akan memajukan dunia bisnisnya.
4. menjalani setiap peraturan yang ditetapkan perusaan dan mejalannya dengan baik.

Sumber:

http://rilladepiputri26209421.blogspot.com

http://id.wikipedia.org/wiki/Etika_bisnis

http://waraberharap.wordpress.com/2012/12/10/makalah-etika-bisnis/

ETIKA, PROFESI, DAN ETIKA PROFESI

ETIKA

Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimilki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.
Definisi Etika menurut para ahli :
• Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.
• Abdullah dalam buku yang berjudul Pengantar Studi Etika (2006:4) menjelaskan arti kata etika berdasarkan etimologinya yang berasal dari bahasa Yunani, ethos, yang bermakna kebiasaan atau adat-istiadat.
• Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari seg baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
Manusia disebut etis, ialah manusia secara utuh dan menyeluruh mampu memenuhi hajat hidupnya dalam rangka asas keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan pihak yang lainnya, antara rohani dengan jasmaninya, dan antara sebagai makhluk berdiri sendiri dengan penciptanya. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yang perlu kita pahami .
Ada dua macam etika yang harus kita pahami bersama dalam menentukan baik dan buruknya prilaku manusia :

1. ETIKA DESKRIPTIF, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau diambil.
2. ETIKA NORMATIF, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.

PROFESI
Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai.
Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan, dan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek.
KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA
Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu.

SITI NAFSIAH
Profesi adalah suatu pekerjaan yang dikerjakan sebagai sarana untuk mencari nafkah hidup sekaligus sebagai sarana untuk mengabdi kepada kepentingan orang lain (orang banyak) yang harus diiringi pula dengan keahlian, ketrampilan, profesionalisme, dan tanggung jawab.

PROFESIONAL adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Atau seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian, sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi, untuk senang-senang, atau untuk mengisi waktu luang.
PERANAN ETIKA DALAM PROFESI :
1. Nilai-nilai etika itu tidak hanya milik satu atau dua orang, atau segolongan orang saja tetapi milik setiap kelompok masyarakat, bahkan kelompok yang paling kecil yaitu keluarga sampai pada suatu bangsa. Dengan nilai-nilai etika tersebut, suatu kelompok diharapkan akan mempunyai tata nilai untuk mengatur kehidupan bersama.
2. Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang menjadi landasan dalam pergaulan baik dengan kelompok atau masyarakat umumnya maupun dengan sesama anggotanya, yaitu masyarakat profesional. Golongan ini sering menjadi pusat perhatian karena adanya tata nilai yang mengatur dan tertuang secara tertulis (yaitu kode etik profesi) dan diharapkan menjadi pegangan para anggotanya.
3. Sorotan masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku sebagian para anggota profesi yang tidak didasarkan pada nilai-nilai pergaulan yang telah disepakati bersama (tertuang dalam kode etik profesi), sehingga terjadi kemerosotan etik pada masyarakat profesi tersebut. Sebagai contohnya adalah pada profesi hukum dikenal adanya mafia peradilan, demikian juga pada profesi dokter dengan pendirian klinik super spesialis di daerah mewah, sehingga masyarakat miskin tidak mungkin menjamahnya.

PROFESI :
- Mengandalkan suatu keterampilan atau keahlian khusus.
- Dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama (purna waktu).
- Dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup.
- Dilaksanakan dengan keterlibatan pribadi yang mendalam.

PROFESIONAL :
- Orang yang tahu akan keahlian dan keterampilannya.
- Meluangkan seluruh waktunya untuk pekerjaan atau kegiatannya itu.
- Hidup dari situ.
- Bangga akan pekerjaannya.

Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi, yaitu :
1. Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
2. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
3. Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
4. Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.
5. Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi.

Dapat diambil kesimpulan bahwa kaum profesional adalah orang-orang yang memiliki tolak ukur perilaku yang berada di atas rata-rata. Di satu pihak ada tuntutan dan tantangan yang sangat berat, tetapi di lain pihak ada suatu kejelasan mengenai pola perilaku yang baik dalam rangka kepentingan masyarakat.

Syarat-syarat Suatu Profesi :
1. Melibatkan kegiatan intelektual.
2. Menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus.
3. Memerlukan persiapan profesional yang alam dan bukan sekedar latihan.
4. Memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan.
5. Menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen.
6. Mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri, dalam hal ini adalah kode etik.
ETIKA PROFESI
Pengertian Etika Profesi
Etika profesi menurut keiser dalam ( Suhrawardi Lubis, 1994:6-7 ) adalah sikap hidup berupa keadilan untuk memberikan pelayanan professional terhadap masyarakat dengan penuh ketertiban dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas berupa kewajiban terhadap masyarakat.
Kode etik profesi adalah system norma, nilai dan aturan professional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi professional. Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Tujuan kode etik yaitu agar professional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Dengan adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak professional.
Tiga Fungsi dari Kode Etika Profesi
1. Kode etik profesi memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan
2. Kode etik profesi merupakan sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan
3. Kode etik profesi mencegah campur tangan pihak diluar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi
Prinsip dasar di dalam etika profesi :
1. Tanggung jawab
- Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
- Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada umumnya.
2. Keadilan.
Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.
3. Prinsip Kompetensi,melaksanakan pekerjaan sesuai jasa profesionalnya, kompetensi dan ketekunan
4. Prinsip Prilaku Profesional, berprilaku konsisten dengan reputasi profesi
5. Prinsip Kerahasiaan, menghormati kerahasiaan informasi
Kelemahan Kode Etika Profesi :
1. Idealisme terkandung dalam kode etik profesi tidak sejalan dengan fakta yang terjadi di sekitar para profesional, sehingga harapan sangat jauh dari kenyataan. Hal ini cukup menggelitik para profesional untuk berpaling kepada nenyataan dan menabaikan idealisme kode etik profesi. Kode etik profesi tidak lebih dari pajangan tulisan berbingkai.
2. Kode etik profesi merupakan himpunan norma moral yang tidak dilengkapi dengan sanksi keras karena keberlakuannya semata-mata berdasarkan kesadaran profesional. Rupanya kekurangan ini memberi peluang kepada profesional yang lemah iman untuk berbuat menyimpang dari kode etik profesinya.

KESIMPULAN

ETIKA dapat dinyatakan aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk.

PROFESI merupakan pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.

ETIKA PROFESI adalah sikap hidup berupa keadilan untuk memberikan pelayanan professional terhadap masyarakat dengan penuh ketertiban dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas berupa kewajiban terhadap masyarakat.

Question Tag

Add question tag at the end of the following sentences !
1.   They want to come, don’t they?
2.   They won’t be here, will they?
3.   Cristian is a student, isn’t he?
4.   He has learned a lot in the last couple of years, hasn’t he?
5.   He has a car, doesn’t he?
6.   She’ll help us later, won’t she?
7.   Nothing is wrong, are they?
8.   I am invited, aren’t i?
9.   She cried last night, didn’t she?
10. He went to bandung yesterday, didn’t he?
11. Those aren’t your books, are they?
12. Everyone can’t come, can they?
13. Class ends at 11.30, doesn’t it?
14. Nobody has told you the secret, has they?
15. You haven’t seen that movie, have you?
16. We have class tomorrow, haven’t we?
17. She is never late to class, is she?
18. Fahmi sat in front of maya yesterday, didn’t she?
19. You had good time last week, didn’t you?
20. These keys don’t belong to you, does they?

 

Things to Do at Lake Toba, Indonesia

ke Toba in Sumatra,Indonesia is the world’s largest volcanic lake, and also one of the best places in Asia to chill out for a few days or longer. There may not be an abundance of things to do at Lake Toba, but the atmosphere is so pleasant that you probably won’t even notice! Motorbike or private car is the best way to visit several small sites in one day.
Pulau Samosir, a newly formed island inside the lake, is blessed with great scenery, friendly locals, and a pleasant vibe.
1. Visit an Ancient Batak Village

images
Perhaps most famous of the things to do at Lake Toba because of the accessibility, the ruins of an ancient Batak village along with stone chairs and head-chopping block can be found in the nearby village of Ambarita.
The stone chairs were used for meetings by the local king, and both a torture stone and chopping block were once used for brutal executions.
Ambarita is located three miles northwest of Tuk-tuk along the main road. The stone chairs are not on the main road, ask in town about how to get there. Hiring a Batak “guide” inside the village is both entertaining and well worth the $1 — prices are variable — for learning about the cannibal rituals and Batak culture.
2. Tomb of King Sidabutar
Just three miles southeast of Tuk-tuk in the village of Tomok are more stone remains and ancient tombs. The site is small but interesting, however, you must negotiate a labyrinth of tacky souvenir stalls to visit the site. Find the ruins by taking a right from the main road in Tomok through the narrow alley lined with souvenir stalls.
Most people find the carved man on the front of the largest sarcophagus strangely out of place!
3. Drive Around the Island
Circumnavigating the whole of Pulau Samosir may require a very early start, however, riding along the lake on a motorbike is a very enjoyable way to see everyday village life. Old churches, volcanic scenery, and daily life keep every mile you drive interesting enough to see what’s around the next bend.
Overall, the roads are in fairly good condition, however, rough patches and random animal crossings keep things extra exciting. Helmet and international license laws are rarely ever enforced on Pulau Samosir.
A motorbike can be rented for $7 per day; the price includes a full tank of gas which you do not have to replace. Cheaper rates can be negotiated if you take the motorbike for more than one day.
4. Visit the Hot Springs
The hot springs are located on the side of the island opposite Tuk-tuk, outside of Panguruan — the largest settlement on Pulau Samosir. While the hot springs are interesting to see, the sulfuric smell is noxious and the water is too hot to enjoy.
Skilled motorbike drivers can brave the terrible road higher into the hills to see the source of the hot springs. The views of Lake Toba from above the hot springs is spectacular — the best place to grab a photo of Lake Toba.
5. Visit the Batak Museum
Located in Simanindo approximately nine miles from Tuk-tuk, an ancient king’s traditional house was restored and converted into the Batak Museum. The museum is small, but a must if you are interested in understanding more about the extremely interesting Batak culture; admission is $3.
Traditional dancing is sometimes performed at 10:30 a.m. each morning — assuming that any tourists have shown up. The dancing done at the museum is far more authentic than the tourist-oriented variety performed in guesthouses.
6. See Traditional Batak Dance and Music
Bagus Bay and Samosir Cottages, two popular guesthouses, regularly have traditional music and Batak dance on Saturday and Wednesday nights around 8 p.m. Like anything else, the number of tourists in attendance determine if the show goes on.
Shows typically begin tame as everyone is still eating, then progress into fun drinking songs and animated performances by very talented locals who play a mixture of modern and ancient instruments.
7. See a Lake Inside of a Lake
Tucked away in the island interior west of Tuk-tuk is Lake Sidihoni. Interestingly, there are very few lakes within lakes in the world.
Getting to Lake Sidihoni is tricky. You must brave the rough road between Ronggumihuta and Partungkoan on motorbike, then hike the slightly obscure path.
If lost, try asking someone “di mana Danau Sidihoni?”
8. Try Fishing
Lake Toba is filled with fish of all sizes that regularly hang around the guesthouse docks and shore walls. Both nets and poles can be purchased at shops around Tuk-tuk. Try fishing in the morning; egg or bread leftover from breakfast makes great bait. Alternatively, fish are also attracted to a flashlight directed at the water which makes them easier to net at night.
Locals may be willing to take you on a proper fishing experience by boat with a little negotiation.
9. See Traditional Weaving
The small village of Buhit is home to weavers of the traditional Batak cloths used in dances and rituals. The cloths are wrapped around the head to keep sun off. Buhit is located north of Tuk-tuk (take a right as you exit the main gate) before you arrive at Panguruan and the hot springs.

http://goasia.about.com/od/Attractions/tp/Things-to-Do-Lake-Toba-Indonesia.htm

Contractions

A contraction is a word or phrase that’s (or that has) been shortened by dropping one or more letters. In writing, an apostrophe takes the place of the missing letters.

We rely on contractions all the time in normal conversations. As Ben Yagoda says in The Sound on the Page (Harper, 2004), “In speech, there is an expectation that anyone who’s not prissy or pretentious or is emphasizing a point will use [contractions] whenever possible.”

Some people are under the impression that contractions should never appear in writing, but this belief is mistaken. The use of contractions is directly related to tone. In informal writing (from text messages and blogs to memos and personal essays), we often rely on contractions to maintain a colloquial tone. In more formal writing assignments (such as academic reports or term papers), avoiding contractions is a way of establishing a more serious tone.

Before deciding whether to use contractions in a writing assignment, consider your audience and your purpose for writing.

In the table below you’ll find some of the most frequently used contractions in English.

Standard Contractions in English
aren’t are not
can’t cannot
couldn’t could not
didn’t did not
doesn’t does not
don’t do not
hadn’t had not
hasn’t has not
haven’t have not
he’d he had; he would
he’ll he will; he shall
he’s he is; he has
I’d I had; I would
I’ll I will; I shall
I’m I am
I’ve I have
isn’t is not
It’s it is; it has
let’s let us
mightn’t might not
mustn’t must not
shan’t shall not
she’d she had; she would
she’ll she will; she shall
she’s she is; she has
shouldn’t should not
that’s that is; that has
there’s there is; there has
they’d they had; they would
they’ll they will; they shall
They’re they are
they’ve they have
we’d we had; we would
We’re we are
we’ve we have
weren’t were not
what’ll what will; what shall
what’re what are
what’s what is; what has
what’ve what have
where’s where is; where has
who’d who had; who would
who’ll who will; who shall
who’re who are
Who’s who is; who has
who’ve who have
won’t will not
wouldn’t would not
you’d you had; you would
you’ll you will; you shall
you’re you are
you’ve you have

http://grammar.about.com/od/words/a/EnglishContractions.htm

Noun, Verb and Adjective + Preposition Combinations

Prepositions and the rules concerning their usage can be confusing to learners of English as a second language. Basically, prepositions are connecting words that join objects to other parts of sentences. Preposition choice is determined by the noun, verb, adjective or particle which precedes it.
Noun + Preposition Combinations
English has many examples of prepositions coming after nouns. In such cases, the prepositions are often followed by a phrase containing a noun, as in example (a) below. They can also be followed by a noun, as in example (b), or an -ing verb, as in example (c).
(a) Scientists at the research institute think they are close finding a solution to the problem.
(b) Everyone was surprised by his lack of concern.
(c) We need to call an expert at plumbing as soon as possible.
Here are a few more nouns and prepositions which are used together:
the use of a solution to influence on evidence of
the cost of an increase in a possibility of danger of
the price of a reason for a supply of a method of
a lack of belief in the cause of difficulty with
Verb + Preposition Combinations
Many English prepositions also follow verbs. Sometimes they introduce a phrase that contains a noun, as in example (a). They can also introduce a noun, as in example (b), or an -ing verb, as in example (c).
(a) I don’t know how long we can depend on his generosity. He has already done so much for us.
(b) Many of the town’s residents relied on neighbours for help during the flood.
(c) She believes in helping people who are less fortunate than her.
Here are some other verbs and prepositions that are used together:
I insist on . . . He can deal with . . .
This can result in . . . Do you plan on . . .
We belong to . . . This could lead to . . .
My answer will depend on . . . You can rely on . . .
They fight for . . . We fight against . . .
We contribute to . . . I believe in . . .
Adjective + Preposition Combinations
English also has many instances of prepositions coming after adjectives. In many cases, the prepositions precede phrases containing nouns, as in example (a), or pronouns, as in example (b). It is also possible for the prepositions to precede an -ing verb, as in (c).
(a) I was amazed at all the improvements.
(b) We were all shocked by his behaviour.
(c) Because the exam was more difficult than I expected, I’m worried about passing.
Here are some more adjectives and prepositions that are used together:
proud of identical to different from tired of
related to opposed to satisfied with eager for
based on famous for necessary for excited about
Common Sentence Errors with Prepositions
There are three common types of sentence errors which involve prepositions.
1. Using a preposition which doesn’t fit the context of the sentence:
I was amazed from all the improvements. Wrong!
I was amazed at all the improvements. Right!
2. Omitting a preposition that belongs in a sentence:
I was amazed all the improvements. Wrong!
I was amazed at all the improvements. Right!
3. Adding a preposition which is not needed in the sentence:
I was amazed at that the improvements were done so quickly. Wrong!
I was amazed that the improvements were done so quickly. Right!

http://web2.uvcs.uvic.ca/elc/studyzone/410/grammar/410-preposition-combinations.htm

Using Clauses as Nouns, Adjectives, and Adverbs

If a clause can stand alone as a sentence, it is an independent clause, as in the following example:
Independent
Some clauses, however, cannot stand alone as sentences: in this case, they are dependent clauses or subordinate clauses. Consider the same clause with the subordinating conjunction “because” added to the beginning:
Dependent
In this case, the clause could not be a sentence by itself, since the conjunction “because” suggests that the clause is providing an explanation for something else. Since this dependent clause answers the question “when,” just like an adverb, it is called a dependent adverb clause (or simply an adverb clause, since adverb clauses are always dependent clauses). Note how the clause can replace the adverb “tomorrow” in the following examples:

adverb
The committee will meet tomorrow.
adverb clause
The committee will meet when the Prime Minister is in Ottawa.
Dependent clauses can stand not only for adverbs, but also for nouns and for adjectives.
Noun Clauses
A noun clause is an entire clause which takes the place of a noun in another clause or phrase. Like a noun, a noun clause acts as the subject or object of a verb or the object of a preposition, answering the questions “who(m)?” or “what?”. Consider the following examples:
noun
I know Latin.
noun clause
I know that Latin is no longer spoken as a native language.
In the first example, the noun “Latin” acts as the direct object of the verb “know.” In the second example, the entire clause “that Latin …” is the direct object.
In fact, many noun clauses are indirect questions:
noun
Their destination is unknown.
noun clause
Where they are going is unknown.
The question “Where are they going?,” with a slight change in word order, becomes a noun clause when used as part of a larger unit — like the noun “destination,” the clause is the subject of the verb “is.”
Here are some more examples of noun clauses:
about what you bought at the mall
This noun clause is the object of the preposition “about,” and answers the question “about what?”
Whoever broke the vase will have to pay for it.
This noun clause is the subject of the verb “will have to pay,” and answers the question “who will have to pay?”
The Toronto fans hope that the Blue Jays will win again.
This noun clause is the object of the verb “hope,” and answers the question “what do the fans hope?”
Adjective Clauses
An adjective clause is a dependent clause which takes the place of an adjective in another clause or phrase. Like an adjective, an adjective clause modifies a noun or pronoun, answering questions like “which?” or “what kind of?” Consider the following examples:

Adjective
the red coat
Adjective clause
the coat which I bought yesterday
Like the word “red” in the first example, the dependent clause “which I bought yesterday” in the second example modifies the noun “coat.” Note that an adjective clause usually comes after what it modifies, while an adjective usually comes before.
In formal writing, an adjective clause begins with the relative pronouns “who(m),” “that,” or “which.” In informal writing or speech, you may leave out the relative pronoun when it is not the subject of the adjective clause, but you should usually include the relative pronoun in formal, academic writing:
informal
The books people read were mainly religious.
formal
The books that people read were mainly religious.
informal
Some firefighters never meet the people they save.
formal
Some firefighters never meet the people whom they save.

Here are some more examples of adjective clauses:
the meat which they ate was tainted
This clause modifies the noun “meat” and answers the question “which meat?”.
about the movie which made him cry
This clause modifies the noun “movie” and answers the question “which movie?”.
they are searching for the one who borrowed the book
The clause modifies the pronoun “one” and answers the question “which one?”.
Did I tell you about the author whom I met?
The clause modifies the noun “author” and answers the question “which author?”.
Adverb Clauses
An adverb clause is a dependent clause which takes the place of an adverb in another clause or phrase. An adverb clause answers questions such as “when?”, “where?”, “why?”, “with what goal/result?”, and “under what conditions?”.
Note how an adverb clause can replace an adverb in the following example:
adverb
The premier gave a speech here.
adverb clause
The premier gave a speech where the workers were striking.

Usually, a subordinating conjunction like “because,” “when(ever),” “where(ever),” “since,” “after,” and “so that,” will introduce an adverb clause. Note that a dependent adverb clause can never stand alone as a complete sentence:

independent clause
they left the locker room
dependent adverb clause
after they left the locker room

The first example can easily stand alone as a sentence, but the second cannot — the reader will ask what happened “after they left the locker room”. Here are some more examples of adverb clauses expressing the relationships of cause, effect, space, time, and condition:

cause
Hamlet wanted to kill his uncle because the uncle had murdered Hamlet’s father.
The adverb clause answers the question “why?”.
effect
Hamlet wanted to kill his uncle so that his father’s murder would be avenged.
The adverb clause answers the question “with what goal/result?”.
time
After Hamlet’s uncle Claudius married Hamlet’s mother, Hamlet wanted to kill him.

The adverb clause answers the question “when?”. Note the change in word order — an adverb clause can often appear either before or after the main part of the sentence.

place
Where the whole Danish court was assembled, Hamlet ordered a play in an attempt to prove his uncle’s guilt.
The adverb clause answers the question “where?”.
condition
If the British co-operate, the Europeans may achieve monetary union.
The adverb clause answers the question “under what conditions?”

Written by David Megginson : http://www.writingcentre.uottawa.ca/hypergrammar/claustyp.html

Conjunctions

Definition

Some words are satisfied spending an evening at home, alone, eating ice-cream right out of the box, watching Seinfeld re-runs on TV, or reading a good book. Others aren’t happy unless they’re out on the town, mixing it up with other words; they’re joiners and they just can’t help themselves. A conjunction is a joiner, a word that connects (conjoins) parts of a sentence.

Coordinating Conjunctions

(It may help you remember these conjunctions by recalling that they all have fewer than four letters. Also, remember the acronym FANBOYS: For-And-Nor-But-Or-Yet-So. Be careful of the words then and now; neither is a coordinating conjunction, so what we say about coordinating conjunctions’ roles in a sentence and punctuation does not apply to those two words.) When a coordinating conjunction connects two independent clauses it is often (but not always) accompanied by a comma:

  • Ulysses wants to play for UConn, but he has had trouble meeting the academic requirements.

When the two independent clauses connected by a coordinating conjunction are nicely balanced or brief, many writers will omit the comma:

  • Ulysses has a great jump shot but he isn’t quick on his feet.

AND

  1. To suggest that one idea is chronologically sequential to another: “Tashonda sent in her applications and waited by the phone for a response.”
  2. To suggest that one idea is the result of another: “Willie heard the weather report and promptly boarded up his house.”
  3. To suggest that one idea is in contrast to another (frequently replaced by but in this usage): “Juanita is brilliant and Shalimar has a pleasant personality.
  4. To suggest an element of surprise (sometimes replaced by yet in this usage): “Hartford is a rich city and suffers from many symptoms of urban blight.”
  5. To suggest that one clause is dependent upon another, conditionally (usually the first clause is an imperative): “Use your credit cards frequently and you’ll soon find yourself deep in debt.”
  6. To suggest a kind of “comment” on the first clause: “Charlie became addicted to gambling — and that surprised no one who knew him.”

BUT

  1. To suggest a contrast that is unexpected in light of the first clause: “Joey lost a fortune in the stock market, but he still seems able to live quite comfortably.”
  2. To suggest in an affirmative sense what the first part of the sentence implied in a negative way (sometimes replaced by on the contrary): “The club never invested foolishly, but used the services of a sage investment counselor.”
  3. To connect two ideas with the meaning of “with the exception of” (and then the second word takes over as subject): “Everybody but Goldenbreath is trying out for the team.”

OR

  1. To suggest that only one possibility can be realized, excluding one or the other: “You can study hard for this exam or you can fail.”
  2. To suggest the inclusive combination of alternatives: “We can broil chicken on the grill tonight, or we can just eat leftovers.
  3. To suggest a refinement of the first clause: “Smith College is the premier all-women’s college in the country, or so it seems to most Smith College alumnae.”
  4. To suggest a restatement or “correction” of the first part of the sentence: “There are no rattlesnakes in this canyon, or so our guide tells us.”
  5. To suggest a negative condition: “The New Hampshire state motto is the rather grim “Live free or die.”
  6. To suggest a negative alternative without the use of an imperative (see use of and above): “They must approve his political style or they wouldn’t keep electing him mayor.”

Authority used for this section on the uses of and, but, and or: A University Grammar of English by Randolph Quirk and Sidney Greenbaum. Longman Group: Essex, England. 1993. Used with permission. Examples our own.

THE OTHER..

The conjunction NOR is not extinct, but it is not used nearly as often as the other conjunctions, so it might feel a bit odd when nor does come up in conversation or writing. Its most common use is as the little brother in the correlative pair, neither-nor (see below):

  • He is neither sane nor brilliant.
  • That is neither what I said nor what I meant.

>It can be used with other negative expressions:

  • That is not what I meant to say, nor should you interpret my statement as an admission of guilt.

It is possible to use nor without a preceding negative element, but it is unusual and, to an extent, rather stuffy:

  • George’s handshake is as good as any written contract, nor has he ever proven untrustworthy.

The word YET functions sometimes as an adverb and has several meanings: in addition (“yet another cause of trouble” or “a simple yet noble woman”), even (“yet more expensive”), still (“he is yet a novice”), eventually (“they may yet win”), and so soon as now (“he’s not here yet”). It also functions as a coordinating conjunction meaning something like “nevertheless” or “but.” The word yet seems to carry an element of distinctiveness that but can seldom register.

  • John plays basketball well, yet his favorite sport is badminton.
  • The visitors complained loudly about the heat, yet they continued to play golf every day.

In sentences such as the second one, above, the pronoun subject of the second clause (“they,” in this case) is often left out. When that happens, the comma preceding the conjunction might also disappear: “The visitors complained loudly yet continued to play golf every day.”

Yet is sometimes combined with other conjunctions, but or and. It would not be unusual to see and yet in sentences like the ones above. This usage is acceptable.

The word FOR is most often used as a preposition, of course, but it does serve, on rare occasions, as a coordinating conjunction. Some people regard the conjunction for as rather highfalutin and literary, and it does tend to add a bit of weightiness to the text. Beginning a sentence with the conjunction “for” is probably not a good idea, except when you’re singing “For he’s a jolly good fellow. “For” has serious sequential implications and in its use the order of thoughts is more important than it is, say, with because or since. Its function is to introduce the reason for the preceding clause:

  • John thought he had a good chance to get the job, for his father was on the company’s board of trustees.
  • Most of the visitors were happy just sitting around in the shade, for it had been a long, dusty journey on the train.

Be careful of the conjunction SO. Sometimes it can connect two independent clauses along with a comma, but sometimes it can’t. For instance, in this sentence,

  • Soto is not the only Olympic athlete in his family, so are his brother, sister, and his Uncle Chet.

where the word so means “as well” or “in addition,” most careful writers would use a semicolon between the two independent clauses. In the following sentence, where so is acting like a minor-league “therefore,” the conjunction and the comma are adequate to the task:

  • Soto has always been nervous in large gatherings, so it is no surprise that he avoids crowds of his adoring fans.

Sometimes, at the beginning of a sentence, so will act as a kind of summing up device or transition, and when it does, it is often set off from the rest of the sentence with a comma:

  • So, the sheriff peremptorily removed the child from the custody of his parents.

From :http://grammar.ccc.commnet.edu/grammar/conjunctions.htm

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.