Jumaristoho's Blog

Just another WordPress.com site

PROPOSAL PENELITIAN

UPAYA PENINGKATAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP MATA PELAJARAN PAI POKOK BAHASAN AZAS-AZAS TRANSAKSI EKONOMI DALAM ISLAM MELALUI STRATEGI READING GUIDE DAN DISKUSI PADA SISWA – SISWI KELAS XI IPA 3 SMAN I BABADAN PONOROGO TAHUN AJARAN 2009/ 2010

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah  

Menurut pandangan psikologi Gestalt, faktor terpenting di dalam belajar adalah pemahaman atau pengertian (insight).[1] Selanjutnya sebagai pusat belajar, siswa harus lebih aktif berkegiatan untuk membangun suatu pemahaman, ketrampilan dan sikap atau perilaku dalam proses pembelajaran. Aktifitas siswa menjadi penting ditekankan, karena belajar itu pada hakikatnya adalah proses yang aktif dimana siswa menggunakan pikirannya untuk membangun pemahaman.[2] Pandangan ini diperkuat lagi oleh psikologi kognitif yang menyatakan bahwa cara yang efektif untuk meningkatkan kualitas output pendidikan adalah pengembangan program-program pembelajaran yang dapat mengoptimalkan keterlibatan mental intelektual pembelajar pada setiap jenjang belajar.[3] Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh  para guru dalam membelajarkan peserta didik, karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh  sejauh mana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan. Peranan guru menurut psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh  proses pendidikan di sekolah, maka peserta didik akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas.[4] Bloom dan Krathwohl sebagaimana dituturkan oleh Hamzah B. Uno, menunjukkan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh  siswa, yang tercakup dalam tiga kawasan yang  diantaranya : Kognitif. Kognitif  terdiri dari enam tingkatan, yaitu :

1.      Pengetahuan (mengingat, menghafal),

2.      Pemahaman (menginterpretasikan),

3.       Aplikasi / penerapan (menggunakan konsep untuk memecahkan suatu masalah),

4.      Analisis (menjabarkan suatu konsep),

5.       Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh),

6.       Evaluasi (membandingkan nilai, ide, metode dan sebagainya).[5]

Jadi, Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok.[6]

Namun dalam kenyataannya, terkadang tidak seperti yang diharapkan oleh teori tersebut di atas. Banyak permasalahan-permasalahan yang muncul ketika dihadapkan pada situasi di lapangan yang terkait dengan salah satu faktor kognitif yaitu pemahaman siswa dalam proses pembelajaran. Berdasarkan data di lapangan yaitu : Dari hasil pengamatan saya pada hari Kamis tanggal 05 Nopember 2009,  di kelas XI IPA 3 SMA Babadan, Ponorogo, jam 09.30-11.45 WIB, ditemukan ada 10 % siswa dari 36 siswa yang tidak memahami materi Transaksi Ekonomi Dalam Islam pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Dari hasil pengamatan saya pada hari Kamis tanggal 05 Nopember 2009, di kelas XI IPA 3 SMA Babadan, Ponorogo, jam 09.30-11.045 WIB, ditemukan ada 5 % siswa dari 36 siswa yang sering ijin keluar ketika jam pelajaran materi transaksi ekonomi dalam Islam pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Kejadian ini dapat diidentifikasikan sebagai kurangnya pemahaman siswa dan kurangnya motivasi belajar siswa.

Ada berbagai alasan yang menyebabkan kurangnya pemahaman siswa dan kurangnya motifasi siswa terhadap proses pembelajaran di kelas. Diantaranya adalah, kurang belajar, kurang minat dan motifasi, kejenuhan dengan strategi yang monoton yaitu ceramah, pengaruh pergaulan negatif. Dan  dapat diambil suatu pertanyaan “Apa yang dilakukan oleh pihak guru SMAN I Babadan Ponorogo dalam upaya meningkatkan pemahaman dan motifasi belajar siswa kelas XI IPA 3 ketika mengikuti pelajaran?”. Realitas ini sangat penting untuk diteliti.

Untuk itu, penelitian ini diangkat untuk mengungkap masalah-masalah tersebut. Berdasarkan hasil penjajagan awal di lapangan pada hari Kamis tanggal 05 Nopember 2009,  di kelas XI IPA 3 SMA Babadan, Ponorogo, jam 09.30-11.45 WIB, ditemukan upaya guru dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam, yaitu penerapan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan metode Reading Guide, Jigsaw Learning, Diskusi dan Tanya Jawab dengan harapan siswa akan senantiasa aktif sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik serta  siswa.dapat menyerap dan memahami materi dengan mudah.

Selanjutnya, berangkat dari hasil temuan tersebut di atas, maka penelitian ini kami beri judul “Upaya Peningkatan Pemahaman Siswa Terhadap Mata Pelajaran PAI Pokok Bahasan Azas-Azas Transaksi Ekonomi Dalam Islam Melalui Strategi Reading Guide Dan Diskusi Pada Siswa – Siswi Kelas XI IPA 3 SMAN I Babadan Ponorogo Tahun Ajaran 2009/ 2010”.

B.         Identifikasi Masalah

Dari permasalahan di atas, dapat diidentifikasi sebagai berikut :

1.      Pemahaman peserta didik pada mata pelajaran PAI di SMAN I Babadan Ponorogo.

2.      Motifasi belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI di SMAN I Babadan Ponorogo.

 

C.        Batasan dan Rumusan masalah

Dari identifikasi masalah tersebut di atas, perlu adanya batasan masalah, agar tidak terjadi kerancuan dalam penelitian dan juga karena keterbatasan waktu dalam penelitian. Dan masalah yang dianggap penting dalam penelitian ini terkait dengan masalah kurangnya pemahaman siswa terhadap mata pelajaran PAI pada pokok bahasan Azas-azas transaksi dalam Islam di kelas XI IPA 3 SMAN I Babadan Ponorogo.

Untuk itu perlu dirumuskan masalahnya sebagai berikut :

1.   Apakah metode Reading Guide dan Diskusi dapat meningkatkan pemahaman materi PAI siswa-siswi kelas XI IPA 3 SMAN I Babadan Ponorogo ?

2. Apakah metode Reading Guide dan Diskusi dapat meningkatkan keaktifan dalam proses pembelajaran PAI siswa-siswi kelas XI IPA 3 SMAN I Babadan Ponorogo ?

3.  Apakah metode Reading Guide dan Diskusi dapat meningkatkan prestasi belajar PAI siswa-siswi kelas XI IPA 3 SMAN I Babadan Ponorogo ?

 

D.        Hipotesis Tindakan Kelas

Hipotesis adalah jawaban atau kesimpulan sementara terhadap masalah penelitian, dimana kebenarannya masih terus diuji secara empirik, karena secara teoritis hipotesis sebagai jawaban sementara, maka dianggap paling mungkin dan paling tinggi kebenarannya.[7]

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut :

1.      Penerapan metode Reading guide dan Diskusi dapat meningkatkan pemahaman mata pelajaran PAI siswa-siswi kelas XI IPA 3 SMAN I Babadan Ponorogo.

2. Penerapan metode Reading guide dan Diskusi dapat meningkatkan keaktifan dalam proses pembelajaran PAI siswa-siswi kelas XI IPA 3 SMAN I Babadan Ponorogo.

3.      Penerapan metode Reading guide dan Diskusi dapat meningkatkan prestasi belajar PAI siswa-siswi kelas XI IPA 3 SMAN I Babadan Ponorogo.

 

E.         Tujuan Penelitian Tindakan Kelas

1.   Untuk mengetahui perubahan pemahaman pada mata pelajaran PAI siswa-siswi kelas XI IPA 3 SMAN I Babadan Ponorogo.

2.      Untuk mengetahui perubahan keaktifan dalam proses pembelajaran PAI siswa-siswi kelas XI IPA 3 SMAN I Babadan Ponorogo.

3.   Untuk mengetahui perubahan prestasi belajar PAI siswa-siswi kelas XI IPA 3 SMAN I Babadan Ponorogo

 

F.         Manfaat Hasil Penelitian Tindakan Kelas

1.      Secara Teoritis

Dari penelitian ini, akan ditemukan tingkat efektifitas pembelajaran dengan menggunakan metode Reading Guide dan Diskusi dalam meningkatkan pemahaman siswa pada materi PAI pokok bahasan Azas-azas transaksi  ekonomi dalam Islam pada siswa-siswi kelas XI IPA 3 SMAN I Babadan Ponorogo.

2.      Secara Praktis

a.       Bagi Peserta Didik

1).    Peserta didik lebih berperan aktif dalam pembelajaran.

2).    Membantu peserta didik untuk menguasai dan memahami materi pelajaran dengan baik tentang azas-azas transaksi ekonomi dalam Islam serta dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan syari’at Islam.

b.      Bagi Pendidik

1).    Dapat merencanakan proses pembelajaran yang lebih aktif, efektif dan efisien.

2).    Dapat mengetahui permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran secara langsung serta untuk mencari solusi dalam memecahkan masalah.

3).    Memperoleh informasi kemajuan dan keberhasilan peserta didik dalam belajarnya.

4).    Sebagai acuan dalam menyusun program untuk keefektifan dalam proses pembelajaran PAI yang lebih baik.

c.       Bagi Sekolah/ Lembaga

1).    Mendapatkan informasi tentang metode pembelajaran Reading guide dan Diskusi, yang nantinya dapat diterapkan di kelas lain dan oleh guru lain.

2).    Dapat meningkatkan kualitas pembelajaran PAI serta meningkatkan mutu pendidikan.

G.        Metodologi Penelitian Tindakan Kelas

1.      Objek Tindakan Kelas

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Babadan kelas XI IPA 3, yang merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Adapun tindakan yang diteliti adalah sebagai berikut:

a.          Pemahaman peserta didik pada mata pelajaran PAI

b.         Keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran PAI

c.          Prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI

Waktu penelitian dilaksanakan selama 2 bulan mulai tanggal 19  Oktober – 19 Desember 2009, dengan prosedur sebagai berikut:

-          Persiapan

-          Pelaksanaan penelitian

-          Penyusunan laporan penelitian

1)      Mengumpulkan dan menilai hasil tes

2)      Menganalisis hasil penelitian

3)      Menyusun laporan penelitian

 

2.      Setting/ Lokasi/ Subjek Penelitian Tindakan Kelas

a.          Setting/ Lokasi PTK

Penelitian bersifat praktis berdasarkan permasalahan riil dalam pembelajaran PAI di SMAN I Babadan Ponorogo tahun ajaran 2009/ 2010. Setting atau lokasi PTK ini adalah di SMA Negeri 1 Babadan, Jl. Perikanan Ds. Pondok Kec. Babadan Ponorogo. Kelas  XI IPA 3 dengan jumlah 36 siswa. Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam semester Gasal tahun pelajaran 2009/2010.

b.         Subjek PTK

Subjek pelaku PTK ini adalah mahasiswa PPLK II, sedangkan subjek penerima PTK adalah 36 peserta didik kelas XI IPA 3 SMAN I Babadan Ponorogo semester gasal tahun ajaran 2009/ 2010.

3.      Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas

      PTK dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 (empat) tahap, yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), observasi (observasing), dan refleksi (reflecting). Secara keseluruhan, empat tahap tersebut digambarlkan dalam bentuk spiral. Untuk mengatasi suatu masalah, diperlukan lebih dari satu siklus. Siklus-siklus tersebut saling terkait dan berkelanjutan. Siklus kedua dilaksanakan bila masih ada hal-hal yang kurang berhasil dalam siklus pertama. Siklus ketiga, dilaksanakan karena siklus kedua belum mengatasi masalah, begitu juga siklus-siklus berikutnya.

Logika 4 (empat) tahap dapat dilihat pada gambar 1.1 berikut ini:

 

Siklus PTK

 

Adapun langkah-langkah pembelajaran PTK adalah :

Sebelum melakukan pembelajaran berbasis PTK, terlebih dahulu melakukan observasi awal untuk :

a.       Menemukan masalah

b.      Melakukan identifikasi masalah

c.       Menetukan batasan masalah

d.   Menganalisa masalah dengan menentukan faktor-faktor yang diduga sebagai penyebab utama terjadinya masalah.

e. Merumuskan gagasan-gagasan pemecahan masalah dengan merumuskan hipotesis-hipotesis tindakan sebagai pemecahan.

f.       Menentukan pilihan hipotesis tindakan pemecahan masalah.

g.      Merumuskan judul perencanaan kegiatan pembelajaran berbasis PTK.

Setelah judul perencanaan kegiatan pembelajaran berbasis PTK

dirumuskan, langkah berikutnya adalah :

1).        Menyusun Perencanaan (planning)

Pada tahap ini, kegiatan yang harus dilakukan adalah:

a).    Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran

b).    Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas.

c).    Mempersiapkan instrumen untuk merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan.

2).        Melaksanakan tindakan (acting)

Pada tahap ini, harus melakukan tindakan yang telah dirumuskan dalam RPP dalam situasi yang aktual, yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

3).        Melakukan Pengamatan observasi (observasing)

Pada tahap ini, yang harus dilakukan adalah:

a).    Mengamati perilaku siswa/ i dalam mengikuti pembelajaran.

b).    Memantau kegiatan diskusi/ kerjasama antar siswa/ i dalam kelompok.

c).    Mengamati pemahaman masing-masing anak terhadap penguasaan materi pembelajaran.

4).        Melakukan refleksi (reflecting).

Pada tahap ini, yang harus dilakukan adalah:

a).    Mencatat hasil observasi

b).    Mengevaluasi hasil observasi

c).    Menganalisa hasil pembelajaran

d).   Mencatat kelemahan-kelemahan untuk dijadikan bahan memperbaiki siklus berikutnya.

 

4.      Teknik Pengumpulan Data

      Teknik pengumpulan data pada PTK ini adalah meliputi wawancara, observasi, dokumentasi.

a.      Teknik wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, dengan orang lain untuk mengetahui suatu kejadian, kegiatan, perasaan dan lain-lain. Teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara mendalam yakni penelitian mengajukan beberapa pertanyaan secara mendalam yang berhubungan dengan fokus permasalahan.[8] Dalam literatur lain, Wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dengan dua orang atau lebih, bertatap muka, mendengarkan langsung informasi-informasi atau keterangan.[9]

Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan dengan peserta didik kelas XI IPA 3 SMAN I Babadan Ponorogo, untuk mengetahui kegiatan pembelajaran, pemahaman terhadap materi pelajaran, serta kesan dari diterapkannya metode Reading Guide dan Diskusi dalam proses pembelajaran.

b.      Teknik observasi

Observasi adalah usaha sadar untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur berstandar atau pengamatan secara langsung maupun tidak langsung terhadap objek yang diteliti.[10] Dalam literatur lain, Observasi adalah alat pengumpulan data  yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki.[11] Dalam penelitian ini, observasi yang digunakan adalah observasi langsung atau partisipatif aktif yaitu mengamati atau menatap kejadian, gerak atau proses dari data lapangan dan ikut serta kegiatan-kegiatan di dalamnya.[12] Jadi peneliti bertindak aktif sebagai seorang peneliti. Observasi aktif digunakan untuk mengetahui keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran, pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran dan prestasi belajar pada mata pelajaran PAI serta kendala yang dihadapi saat diterapkannya metode Reading Guide dan Diskusi dalam proses pembelajaran.

c.       Teknik dokumentasi

Teknik dokumentasi adalah pengumpulan data dari sumber non insani yang terdiri dari dokumen dan rekaman.[13] Dalam penelitian ini, dokumen yang digunakan berupa daftar hadir peserta didik, nilai ulangan harian, foto dan rekaman dalam proses pembelajaran, serta dokumen lain yang relevan, yang dapat dijadikan sebagai data. Teknik ini digunakan untuk mengetahui keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran, tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran dan prestasi belajar pada materi pelajaran PAI dengan diterapkannya metode Reading Guide dan Diskusi.

5.      Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan proses penyusunan data agar dapat ditafsirkan. Proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan.[14]

Data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dianalisis sejak penelitian dimulai dan dikembangkan selama proses refleksi sampai penelitian selesai. Data yang telah terkumpul diedit, dipilih dan dikategorikan untuk menjawab permasalahan penelitian.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model alur. Sebagaimana menurut Milles dan Huberman dalam bukunya Zainal Aqib yang berjudul Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru, disebutkan bahwa teknik analisis data model alur meliputi reduksi data, penyajian data (display data) dan penarikan kesimpulan (verifikasi data).[15]

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.        Landasan Teori

Dengan semakin mantapnya psikologi kognitif yang mengedepankan asas kontruktivisme, para guru tidak lagi dianggap sekedar sebagai penerima pembaharuan yang diturunkan dari atas, tetapi guru bertanggung jawab dan berperan aktif untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilannya sendiri melalui penelitian tindakan dalam proses pembelajaran yang dikelolanya. Dan hal inilah yang melatarbelakangi lahirnya konsep PTK.[16]

PTK merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk memperbaiki layanan kependidikan yang harus di selenggarakan dalam konteks pembelajaran di kelas dan peningkatan kualitas program sekolah secara keseluruhan. Hal itu dapat di lakukan mengingat tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan praktek pembelajaran di kelas secara berkesinambungan. Tujuan ini melekat pada diri guru sesuai penunaian misi profesional kependidikannya.[17]

1.      Metode Pembelajaran

PTK (Classroom Action Research), yaitu penelitian yang di lakukan oleh guru di kelasnya (sekolah) tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praksisi pembelajaran. Tujuan PTK adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktek pembelajaran secara berkesinambungan, sehingga meningkatkan mutu hasil instruksional, mengembangkan keterampilan guru, meningkatkan relevansi, meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.

Dilakukannya PTK adalah dalam rangka guru bersedia menginstropeksi, merefleksi atau  mengevaluasi dirinya sendiri sehingga kemampuannya sebagai guru diharapkan mampu meningkatkan kualifikasi profesionalnya. Dilakukannya PTK, berarti guru juga berkedudukan sebagai peneliti yang senantiasa menggembangkan dan meningkatkan kemampuannya, sehingga, gejala-gejala yang timbul pada saat pembelajaran berlangsung dapat segera diatasi, dan menyiapkan langkah atau strategi, untuk menanggulangi gejala-gejala yang timbul pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Adapun model PTK dimaksudkan menggambarkan adanya empat tahap yakni sebagai berikut:

1.  Tahap I      :  Menyusun perencanaan (Planning), yang menjelaskan

tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut di laksanakan.

2.  Tahap II    :  Melaksanakan tindakan (Acting), yaitu implementasi atau

penerapan isi rancangan di dalam kelas.

3.  Tahap III   :  Melaksanakan Pengamatan (Observing), yaitu

pelaksanaan pengamatan oleh peneliti.

4.  Tahap IV   :  Melakukan refleksi (Reflecting), yaitu kegiatan untuk

mengemukakan kembali apa yang sudah terjadi.

Secara keseluruhan keempat tahapan dalam PTK ini membentuk suatu siklus. Siklus ini kemudian diikuti oleh siklus-siklus lain secara berkesinambungan seperti sebuah spiral.

Salah satu tugas guru adalah mendidik yang didalamnya terdapat interaksi antara guru dan murid, serta transfer of knowledge. Dalam proses transfer of knowledge guru harus memahami keadaan siswa, agar materi yang diterimanya bisa maksimal, dan pembelajaranya tidak monoton maka di perlukan pembelajaran yang bervariasi dan bermakna sehingga tidak hanya guru saja yang aktif melainkan juga peserta didik. Untuk mengatasi hal itu maka diperlukan pembelajaran aktif (Active Learning).

Active Learning atau pembelajaran aktif  yaitu suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif, ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka mendominasi aktivitas pembelajaran. Dengan ini mereka akan secara aktif mengunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi, memecahkan persoalan untuk mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam suatu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata.

Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dan objek  dari kegiatan pengajaran. Karena itu inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan  anak didik di sini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya. Padahal belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang  setelah berakhirnya melakukan aktifitas belajar.[18]

Oleh sebab itu guru berperan sebagi fasilitator yang merancang serangkaian kegiatan yang harus dilakukan siswa, memberi pengantar arahan, mendampingi, mengawasi siswa dalam mencari jawaban, dan memberikan umpan balik, memanfaatkan sumber belajar yang tersedia disekitar serta menciptakan kegiatan belajar yang menyenangkan dan atraktif.

Dari beberapa metode dalam model pembelajaran Active Learning yang mendominasi dalam meningkatkan hasil belajar adalah Metode Ceramah, Tanya Jawab, Reading Guide, jigsaw Learning dan Diskusi.

1.  Metode Ceramah

Ceramah adalah metode yang berupa cara penyajian pelajaran yang dilakukan guru dengan penuturan atau penjelasan lisan secara langsung terhadap siswa.[19]

a.       Kelebihan metode ceramah

1).    Guru mudah menguasai kelas.

2).    Mudah mengorganisasikan tempat duduk/ kelas.

3).    Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar.

4).    Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya.

5).    Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik.

b.      Kekurangannya

1).    Mudah menjadi verbalisme (pengertian kata-kata)

2).    Yang visual menjadi rugi, yang auditif (mendengar) lebih besar menerimanya.

3).    Bila selalu digunakan dan terlalu lama membosankan.

4).    Guru menyimpulkan bahwa siswa mengerti dan tertarik pada ceramahnya, ini sukar sekali.

5).    Menyebabkan siswa menjadi pasif.[20]

2.  Tanya Jawab

Tanya jawab adalah metode yang berupa cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.[21]

a.       Kelebihannya

1)      Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa.

2)      Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya pikir termasuk daya ingatan.

3)  Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.

b.      Kekurangannya

1)   Siswa merasa takut, apabila guru kurang dapat mendorong siswa untuk berani, dengan menciptakan suasana yang tidak tegang, melainkan akrab.

2)   Tidak mudah membut pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan mudah dipahami siswa.

3)      Waktu sering banyak terbuang, terutama apabila siswa tidak dapat menjawab pertanyaan sampai dua atau tiga orang.

4) Dalam jumlah siswa yang banyak tidak mungkin cukup waktu untuk memberikan pertanyaan kepada setiap siswa.[22]

3.  Diskusi

Diskusi adalah metode yang berupa cara penyajian pelajaran, dimana siswa-siswi dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama.[23]

a.       Kelebihannya

1).  Merangsang kreatifitas siswa dalam bentuk ide, gagasan, prakarsa dan terobosan baru dalam pemecahan suatu masalah.

2).    Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain.

3).    Memperluas wawasan.

4).    Membina untuk terbiasa musyawarah untuk mencari mufakat dalam pemecahan masalah.

c.       Kekurangannya

1).    Pembicaraan terkadang menyimpang, sehingga memerlukan waktu yang panjang.

2).    Tidak dapat dipakai pada kelompok besar.

3).    Peserta mendapat informasi yang terbatas.

4).    Mungkin didominasi oleh siswa yang suka berbicara atau ingin menonjolkan diri.[24]

4.  Reading Guide

Reading Guide adalah metode yang berupa cara penyajian pelajaran dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut : menentukan bacaan yang akan dipelajari, membuat kisi-kisi pertanyaan yang akan dijawab oleh siswa melalui bahan bacaan yang telah dipilih,  membagikan bahan-bahan bacaan dengan kisi-kisi pertanyaan kepada setiap siswa, setiap siswa mempelajari bahan bacaan dengan menggunakan kisi-kisi pertanyaan yang ada.[25]

5.  Jigsaw Learning

Jigsaw Learning adalah metode yang berupa cara penyajian pelajaran dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut : memilih materi menjadi beberapa segmen, membagi peserta menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami materi yang berbeda, setiap kelompok mengirimkan anggotanya ke kelompok lain untuk menyampaikan apa yang telah dipelajari, mengembalikan suasana kelas seperti semula, memberi pertanyaan untuk mengecek pemahaman peserta terhadap materi.[26]

2.      Pemahaman

Dalam kamus besar bahasa Indonesia,  “Pemahaman adalah perbuatan, cara memahami atau memahamkan”.[27] Pemahaman merupakan aspek yang mengacu pada kemampuan memahami makna materi yang dipelajari. Pada umumnya unsur pemahaman ini menyangkut kemampuan menangkap makna suatu konsep yang ditandai antara lain dengan kemampuan menjelaskan arti, suatu konsep dengan kata-kata sendiri. Pemahaman dapat dibedakan menjadi tiga kategori yaitu penerjemahan (misalnya dari lambang ke arti), penafsiran dan ekstrapolasi (penyimpulan dari suatu yang telah diketahui). Aspek ini satu tingkat di atas pengetahuan, sehingga untuk mencapai tujuan dalam tingkat pemahaman ini dituntut keaktifan belajar murid yang lebih banyak.[28]

Sebagai pusat belajar, siswa harus lebih aktif berkegiatan untuk membangun suatu pemahaman, ketrampilan dan sikap atau perilaku dalam proses pembelajaran. Aktifitas siswa menjadi penting ditekankan, karena belajar itu pada hakikatnya adalah proses yang aktif dimana siswa menggunakan pikirannya untuk membangun pemahaman.[29]

Dengan mencermati begitu sentralnya masalah pemahaman peserta didik dalam keseluruhan proses pendidikan, nampaknya tidak ada pilihan bagi pengajar untuk berusaha semaksimal mungkin mengetahui perbedaan yang ada pada peserta didik, dengan pelayanan secara klasikal yakni dalam pemilihan alat dan sumber belajar, serta pemberian ilustrasi dalam menjelaskan materi.[30]

Selanjutnya tugas guru dalam hal ini adalah menggunakan pendekatan mengajar (approach to teaching) yang memungkinkan para siswa menggunakan strategi yang berorientasi pada pemahaman yang mendalam terhadap isi materi pelajaran, kepada para siswa seyogyanya dijelaskan contoh-contoh dan peragaan sepanjang memungkinkan agar mereka memahami signifikansi materi dan hubungannya dengan materi-materi lain.[31]

3.      Pendidikan Agama Islam

Pengertian Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain.[32]

Sedangkan di dalam literatur lain, Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu jenis pendidikan yang didesain dan diberikan kepada siswa yang beragama Islam dalam rangka untuk mengembangkan keberagamaan Islam mereka.[33]

          Jadi, dapat disimpulkan bahwasanya Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar yang terencana dan terarah dalam membimbing peserta didik untuk mengenal, mengimani ajaran agama Islam serta mewujudkan manusia seutuhnya sebagai khalifah Allah di muka bumi yang berdasarkan kepada ajaran Al Qur’an dan As Sunnah demi terbentuknya insan kamil yang khusnul khatimah.

BAB III

HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A.        Gambaran Setting Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini mengambil setting di SMA Negeri I Babadan Ponorogo, yang terletak di jalan Perikanan Pondok Babadan, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo Telp. (0352) 486657. Sekolah ini menempati areal yang luas tanah seluruhnya 20000 m2,yang terdiri dari  luas bangunan 1561 m2 dan luas pekarangan 18439 m2.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di SMA Negeri I Babadan Ponorogo ini dalam pelaksanaannya mengikuti alur PTK yang meliputi perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi dan dapat dijelaskan sebagai berikut :

1.      Perencanaan (Planning)

Meliputi penetapan materi pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) pada bab Hukum Islam tentang Muamalah pokok bahasan Transaksi Ekonomi Dalam Islam dengan waktu pelaksanaan pada tanggal 05 Nopember 2009 sampai dengan 26 Nopember 2009 dengan alokasi waktu 8 x 45 menit.

2.      Tindakan (Action)

Meliputi seluruh kegiatan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Active Learning menggunakan metode Reading Guide dan Diskusi dalam upaya peningkatan pemahaman materi PAI pokok bahasan Transaksi Ekonomi Dalam Islam, siswa-siswi kelas XI IPA 3 SMA Negeri I Babadan Ponorogo.

Dalam berlangsungnya proses pembelajaran, secara garis besar meliputi kegiatan :

a.    Pendahuluan/ kegiatan awal, yaitu kegiatan atau aktifitas untuk menarik minat serta memusatkan perhatian siswa, dan menjelaskan tujuan pembelajaran.

b.    Inti, yaitu aktifitas menyajikan/ mempresentasikan pelajaran dengan menggunakan metode yang menarik, sarana dan sumber belajar yang relevan, serta melakukan penilaian di sela-sela pembelajaran sedang berlangsung.

c.    Penutup, yaitu aktifitas merumuskan kesimpulan pelajaran bersama-sama melakukan tindak lanjut dan menutup pelajaran.

Adapun langkah-langkah pembelajaran metode Reading Guide dan Diskusi adalah sebagai berikut:

a.      Langkah-langkah Reading Guide

1).    Perencanaan

Dalam perencanaan ini, hal-hal yang dapat dilakukan antara lain:

  • Merumuskan tujuan pembelajaran yang jelas dari segi kognitif, afektif, dan psikomotorik, sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai setelah diterapkannya metode Reading Guide.
  • Menetapkan garis besar langkah-langkah metode Reading Guide yang akan dilaksanakan.
  • Mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan.
  • Menyiapkan sarana/ sumber/ alat belajar dalam proses pembelajaran.
  • Menerapkan rencana penilaian terhadap kemampuan peserta didik.
  • Menerapkan observasi dan evaluasi.

2).    Pelaksanaan

Dalam pelaksanaannya terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

a).    Kegiatan Awal

  • Guru masuk kelas, duduk, dan mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam dan membaca basmalah (berdoa).
  • Guru mengabsensi siswa.
  • Guru memotivasi siswa untuk melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran.
  • Guru melakukan tes penjajagan (pre tes) dan mengidentifikasi keadaan siswa.
  • Guru mengingatkan pelajaran yang telah diterima dan mengaitkan pada pelajaran baru (Appersepsi).
  • Guru memberi penjelasan singkat tentang tujuan dan proses pembelajaran yang akan dijalani siswa.

b).    Kegiatan Inti

  • Guru memberi intruksi kepada siswa untuk membuat kelompok dan menentukan bacaan yang akan dipelajari.
  • Guru membuat kisi-kisi pertanyaan yang akan dijawab oleh siswa melalui bahan bacaan yang telah dipilih.
  • Setiap siswa mempelajari bahan bacaan dengan menggunakan kisi-kisi pertanyaan yang ada.
  • Membahas kisi-kisi pertanyaan dengan menanyakan jawabannya kepada siswa.
  • Guru melakukan klarifikasi jawaban siswa
  • Evaluasi

c).    Kegiatan Penutup

  • Guru menyimpulkan pelajaran (refleksi)
  • Guru memberi tindak lanjut berupa pemberian tugas (pekerjaan rumah)
  • Guru mengakhiri pelajaran dan menutup dengan do’a dan salam

3).    Evaluasi

Kegiatan ini berupa pemberian tugas kepada siswa, yaitu menjawab pertanyaan dan guru mengoreksi hasil jawaban siswa yang selanjutnya akan ditindak lanjuti pada pertemuan berikutnya.

b.      Langkah-langkah Diskusi

1).    Perencanaan

  • Merumuskan tujuan pembelajaran yang jelas dari segi kognitif, afektif, dan psikomotorik, sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai setelah diterapkannya metode Diskusi.
  • .Menetapkan garis besar langkah-langkah metode Diskusi yang akan dilaksanakan.
  • Mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan.
  • Menyiapkan sarana/ sumber/ alat belajar dalam proses pembelajaran.
  • Menerapkan rencana penilaian terhadap kemampuan peserta didik.
  • Menerapkan observasi dan evaluasi.

2).    Pelaksanaan

Dalam pelaksanaannya terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

a).    Kegiatan Awal

  • Guru masuk kelas, duduk, dan mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam dan membaca basmalah (berdoa).
  • Guru mengabsensi siswa.
  • Guru memotivasi siswa untuk melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran.
  • Guru melakukan tes penjajagan (pre tes) dan mengidentifikasi keadaan siswa.
  • Guru mengingatkan pelajaran yang telah diterima dan mengaitkan pada pelajaran baru (Appersepsi).
  • Guru memberi penjelasan singkat tentang tujuan dan proses pembelajaran yang akan dijalani siswa.

b).    Kegiatan Inti

  • Guru memberi intruksi kepada siswa untuk membuat kelompok diskusi dan menentukan topik yang akan didiskusikan..
  • Guru memberi intruksi kepada siswa untuk salah satu dari mereka  memimpin jalannya diskusi..
  • Setiap siswa diberi hak dan waktu untuk menyampaikan pendapat dan menyanggah pendapat siswa lain dan mempertahankan pendapatnya sendiri.
  • Membacakan hasil diskusi.
  • Guru melakukan klarifikasi hasil diskusi.
  • Evaluasi

c).    Kegiatan Penutup

  • Guru menyimpulkan pelajaran (refleksi)
  • Guru memberi tindak lanjut berupa pemberian tugas (pekerjaan rumah)
  • Guru mengakhiri pelajaran dan menutup dengan do’a dan salam

3).    Evaluasi

Kegiatan ini berupa pemberian tugas kepada siswa, yaitu menjawab pertanyaan dan guru mengoreksi hasil jawaban siswa yang selanjutnya akan ditindak lanjuti pada pertemuan berikutnya.

3.      Observasi (Observing)

Dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran meliputi: pemahaman peserta didik terhadap materi pokok bahasan Transaksi Ekonomi Dalam Islam, aktifitas siswa dan hasil belajar siswa.

4.      Refleksi (Reflecting)

Refleksi yaitu meliputi kegiatan analisis hasil pembelajaran dan sekaligus menyusun rencana pada siklus selanjutnya.

B.         Penjelasan Per-Siklus

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan alur/ tahapan perencanaan, tindakan,  observasi  dan refleksi, disajikan dalam 4 pertemuan dan per- siklus sebagai berikut:

Tabel 1.2

Pertemuan Pertama Siklus I  (pertama)

No.

Perencanaan

Tindakan

Observasi

Refleksi

1.

Menyusun rencana program pengajaran.
  • Menjelaskan KBM secara umum.
  • Menjelaskan indikator yang ingin dicapai.
Mengamati perilaku siswa tehadap penggunaan model belajar. Mencatat hasil observasi.

2.

Menyiapkan, KKM, dan  soal/ resitasi. Membentuk  4 kelompok. Memantau diskusi atau kerjasama antar kelompok. Mengevaluasi hasil kelompok.

3.

Menyiapkan blanko observasi, dan pokok bahasan. Menyampaikan Hand Out materi. Mengamati proses Transfer Of Knowledge antar kelompok, dan sikap siswa pada saat menanggapi pendapat orang lain. Menganalisis proses pembelajaran.

4.

Menyiapkan blanko evaluasi.
  • Tiap kelompok mendiskusikan materinya, meresume, dan mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas.
  • Menarik kesimpulan.
Mengamati pemahaman masing-masing anggota kelompok. Memperbaiki kelemahan yang ada sebagai rujukan siklus selanjutnya.

 

Tabel 1.3

Pertemuan Kedua Siklus I (pertama)

No.

Perencanaan

Tindakan

Observasi

Refleksi

1

Menyusun rencana pelajaran perbaikan
  • Menjelaskan KBM secara umum.
  • Menjelaskan indikator yang ingin dicapai.
Mengamati perilaku siswa tehadap penggunaan model belajar. Mencatat hasil observasi.

2

Menyiapkan, KKM, dan  soal/ resitasi Membentuk  4 kelompok. Memantau diskusi atau kerjasama antar kelompok. Mengevaluasi hasil kelompok.

3

Menyiapkan blanko observasi, dan pokok bahasan. Menyampaikan Hand Out materi. Mengamati catatan dan pemahaman siswa dan siswi. Menganalisis proses pembelajaran.

4

Menyiapkan blanko evaluasi
  • Tiap kelompok mendiskusikan materinya, meresume, dan mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas.
  • Menarik kesimpulan.
Mengamati pemahaman masing-masing anggota kelompok. Memperbaiki kelemahan yang ada sebagai rujukan siklus selanjutnya.

 

Tabel 1.4

Pertemuan ketiga Siklus I (pertama)

No.

Perencanaan

Tindakan

Observasi

Refleksi

1

Menyusun rencana pelajaran perbaikan.
  • Menjelaskan KBM secara umum.
  • Menjelaskan indikator yang ingin dicapai.
Mengamati perilaku siswa tehadap penggunaan model belajar. Mencatat hasil observasi.

2

Menyiapkan, KKM, dan  soal/ resitasi Membentuk  4 kelompok. Memantau diskusi atau kerjasama antar kelompok. Mengevaluasi hasil kelompok.

3

Menyiapkan blanko observasi, dan pokok bahasan. Menyampaikan Hand Out materi. Mengamati catatan dan pemahaman siswa. Menganalisis proses pembelajaran.

4

Menyiapkan blanko evaluasi.
  • Tiap kelompok mendiskusikan materinya, dan mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas.
  • Menarik kesimpulan.
Mengamati pemahaman masing-masing anggota kelompok. Memperbaiki kelemahan yang ada sebagai rujukan siklus selanjutnya.

Tabel 1.5

Pertemuan Keempat Siklus I (pertama)

No.

Perencanaan

Tindakan

Observasi

Refleksi

1

Menyusun rencana pelajaran perbaikan.
  • Menjelaskan KBM secara umum.
  • Menjelaskan indikator yang ingin dicapai.
Mengamati perilaku siswa tehadap penggunaan model belajar. Mencatat hasil observasi.

2

Menyiapkan, KKM, dan  soal/ resitasi Meminta siswa untuk memperhatikan materi yang disampaikan dan membentuk 4 kelompok Mengamati keseriusan siswa dalam KBM. Mengevaluasi perilaku siswa dalam KBM.

3

Menyiapkan blanko observasi, dan pokok bahasan. Tiap kelompok mendiskusikan materinya, dan mempersentasikan hasil diskusinya di depan kelas.

Menarik kesimpulan.

Mengamati catatan dan pemahaman siswa dan siswi. Menganalisis Proses dan hasil Pembelajaran.

4

Memadukan hasil refleksi siklus 1, 2, dan 3 agar dalam siklus 4 lebih efektif.
  • Memberikan tes tulis sebagai evaluasi.
  • Memberikan motivasi belajar kepada siswa.
Mengamati kegiatan siswa dalam melakukan evaluasi.
  • Memperbaiki kelemahan yang ada.
  •  Menyusun laporan.

 

C.        Proses Analisis Data Per-Siklus

Proses analisis data sebagai  hasil dari penelitian  yang diperoleh secara sistematis yang meliputi peningkatan pemahaman siswa, keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, dan prestasi hasil belajar siswa (siswa mencapai KKM) tiap indikator pada mata pelajaran PAI, yang disajikan dalam 4 pertemuan dan satu siklus sebagai berikut:

a.  Pertemuan Pertama Siklus I

Ini merupakan pertemuan pertama, sehingga guru maupun murid harus saling beradaptasi menyesuaikan keadaan. Diawali dengan perkenalan sehingga tidak langsung dapat memulai pelajaran dan sebagian waktu telah tersita di sesi perkenalan ini.

Materi pelajaran kali ini adalah menjelaskan azas-azas transaksi ekonomi dalam Islam dengan sub pokok bahasan pengertian jual beli, rukun jual beli, syarat jual beli, dalil tentang jual beli, hukum jual beli sesuai syariah, dan macam-macam jual beli.

Pertama-tama guru menggunakan metode Jigsaw Learning sesuai dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Guru selain mengajar juga melakukan pengamatan/ penelitan yang meliputi pemahaman siswa terhadap materi, keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, baik aktif bertanya atau menjawab pertanyaan guru maupun sesama teman, siswa kooperatif dalam kelompoknya, dan siswa mencapai KKM tiap indikator.

Hasil penelitian menunjukkan:

Aspek yang diamati

Jumlah pencapaian

Pemahaman peserta didik

34 siswa

Keaktifan peserta didik

28 siswa

Ketuntasan hasil belajar

36 siswa

 

Interpretasi:

Meskipun ini baru siklus I (pertemuan pertama), siswa maupun guru sudah dapat beradaptasi dan hasil evaluasi sudah mencapai hasil yang diharapkan sehingga pembelajaran di sini dapat dikatakan sudah tuntas dan tidak perlu dilanjutkan siklus kedua. Namun dalam hal penerapan metode jigsaw ini, terasa kurang efektif karena banyaknya jumlah siswa dalam kelompok sehingga kurang terfokus pada materi. Dan waktu yang tersedia sangat terbatas, sedangkan  guru harus menyelesaikan materi. Maka berdasarkan pengalaman ini, untuk pertemuan berikutnya yaitu dengan materi yang berbeda, metode pembelajaran akan di ubah dengan metode baru.

b.  Pertemuan Kedua Siklus I

Dalam proses pembelajaran pada pertemuan kedua ini, dan belajar dari pengalaman pada pertemuan pertama siklus I, maka pembelajaran kali ini diubah dengan penerapan metode baru. Materi pelajaran kali ini adalah melanjutkan kompetensi dasar selanjutnya yaitu memberikan contoh transaksi ekonomi dalam Islam dengan sub pokok bahasan pengertian Khiyar, macam-macam Khiyar,  pengertian riba, macam-macam riba, dengan menggunakan metode Reading Guide dan Diskusi.

Hasil penelitian menunjukkan:

Aspek yang diamati

Jumlah pencapaian

Pemahaman peserta didik

36 siswa

Keaktifan peserta didik

30 siswa

Ketuntasan hasil belajar

36 siswa

 

Interpretasi :

Dalam penyampaian materi dengan metode Reading Guide dan Diskusi ini ternyata lebih bisa diikuti siswa. Siswa aktif dan dapat memahami materi. Proses pembelajaran bisa dikatakan lebih maksimal dari pada siklus I. Dan pembelajaran di sini dapat dikatakan sudah tuntas dan tidak perlu dilanjutkan siklus kedua. Namun karena waktu terbatas dan materi yang terlalu banyak, maka sebagian materi belum dapat disampaikan. Dan solusinya akan diulang pada pertemuan berikutnya dengan penerapan metode yang sama.

 

c.   Pertemuan ketiga Siklus I

Dalam proses pembelajaran pada pertemuan ketiga ini hampir sama dengan pertemuan kedua kemarin yang tetap menggunakan metode Reading Guide dan Diskusi, karena ternyata lebih efektif dan lebih mengena bagi siswa. Materi pelajaran kali ini melanjutkan indikator pada Kompetensi Dasar pertemuan kedua yaitu pengertian Syirkah, bentuk-bentuk Syirkah, pengertian Syirkah harta, pengertian Syirkah kerja, pengertian Qirad, pengertian Musaqqah.

Hasil penelitian menunjukkan:

Aspek yang diamati

Jumlah pencapaian

Pemahaman peserta didik

36 siswa

Keaktifan peserta didik

32 siswa

Ketuntasan hasil belajar

36 siswa

Interpretasi:

Dalam penyampaian materi pada pertemuan ketiga ini, siswa  sudah dapat menerima dan memahami pelajaran dengan baik. Ini terbukti dari hasil tes yang diperoleh menunjukkan hasil yang maksimal. Proses pembelajaran pada siklus ini bisa dikatakan berhasil dan tuntas sehingga tidak perlu dilanjutkan siklus kedua.

 

d.  Pertemuan keempat Siklus I

Ini merupakan siklus  (pertemuan terakhir), dan guru dalam  menyampaikan materi masih menggunakan metode Reading Guide dan Diskusi. Dengan harapan bisa berjalan maksimal sesuai dengan tujuan penelitian ini, yaitu upaya peningkatan pemahaman siswa dalam pembelajaran PAI. Materi pelajaran kali ini adalah menerapkan transaksi ekonomi Islam dalam kehidupan sehari-hari sub pokok bahasan pengertian perbankan dan pengertian asuransi.

Hasil penelitian menunjukkan:

 

Aspek yang diamati

Jumlah pencapaian

Pemahaman peserta didik

36 siswa

Keaktifan peserta didik

36 siswa

Ketuntasan hasil belajar

36 siswa

 

Interpretasi:

Dalam penyampaian materi pada pertemuan keempat ini, hasil pembelajaran sangat memuaskan, karena indikator-indikator yang telah ditentukan dapat dikuasai oleh siswa. Dapat diketahui dengan adanya peningkatan pemahaman siswa, keaktifan siswa dalam bertanya dan menjawab pertanyaan, kerjasama siswa dalam kelompok diskusi, dan  semua indikator dapat dicapai siswa yang dibuktikan dengan peningkatan prestasi belajar. Jadi, pembelajaran pada pertemuan ini tuntas dan tidak perlu dilanjutkan pada siklus kedua.

Keberhasilan itu semua dicapai mulai dari pertemuan I sampai pertemuan IV berkat diterapkannya metode Reading Guide dan Diskusi.

D.        Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memahami materi dengan Active Learning menggunakan metode Reading guide dan Diskusi bagi siswa kelas X.I IPA 3 SMA Negeri 1 Babadan tahun pelajaran 2009/ 2010 adalah sangat memuaskan. Secara keseluruhan hasilnya menunjukkan adanya peningkatan baik pemahaman, aktifitas dan kerjasama, maupun prestasi belajar siswa. Jadi kesimpulannya, Semakin tinggi pemahaman dan keaktifan siswa dalam belajar, maka semakin tinggi hasil prestasi yang dicapainya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1.6

Hasil Penelitian

Siklus

Aspek yang diamati

Jumlah Siswa Berhasil

Dari 36

Prosentase Keberhasilan (%)

I

Pemahaman siswa

34 siswa

94 %

Keaktifan siswa

28 siswa

78 %

Hasil prestasi siswa

36 siswa

100 %

Siswa mencapai KKM

36 siswa

100 %

II

Pemahaman siswa

36 siswa

100 %

Keaktifan siswa

30 siswa

83 %

Hasil prestasi belajar siswa

36 siswa

100 %

Siswa mencapai KKM

36 siswa

100 %

III

Pemahaman siswa

36 siswa

100 %

Keaktifan siswa

32 siswa

89 %

Hasil prestasi belajar siswa

36 siswa

100 %

Siswa mencapai KKM

36 siswa

100 %

IV

Pemahaman siswa

36 siswa

100 %

Keaktifan siswa

36 siswa

100 %

Hasil prestasi belajar siswa

36 siswa

100 %

Siswa mencapai KKM

36 siswa

100 %

 

 

BAB IV

PENUTUP

A.        Kesimpulan

Dari hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Pembelajaran Active Learning menggunakan metode Reading guide dan Diskusi dapat meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran PAI. Hal ini dapat dilihat dari peserta didik di kelas XI IPA 3 SMA Negeri I Babadan Ponorogo mampu mengolah informasi dan mengembangkannya. Di samping itu dari hasil proses pembelajaran menunjukkan pada pertemuan pertama siklus I, pemahaman siswa  mencapai (94 %), pertemuan kedua siklus I mencapai (100 %), pertemuan ketiga siklus I mencapai (100 %), dan pertemuan keempat siklus I mencapai (100 %).

2. Pembelajaran Active Learning menggunakan metode Reading guide dan Diskusi dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran PAI. Hal ini dapat dilihat dari aktifitas peserta didik di kelas XI IPA 3 SMAN I Babadan Ponorogo dalam mendengarkan penjelasan guru/ teman, mencatat hal-hal penting, mengajukan pertanyaan dan berdiskusi kelompok. Di samping itu, hasil keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran menunjukkan pada pertemuan pertama siklus I mencapai (78 %), pertemuan kedua siklus I (83 %), pertemuan ketiga siklus I (89 %), dan pertemuan keempat siklus I (100 %).

3. Pembelajaran Active Learning menggunakan metode Reading guide dan Diskusi dapat meningkatkan prestasi peserta didik dalam proses pembelajaran PAI. Hal ini dapat dilihat dari hasil prestasi peserta didik di kelas XI IPA 3 SMAN I Babadan Ponorogo yang menunjukkan pada pertemuan pertama siklus I mencapai (100 %), pertemuan kedua siklus I (100 %), pertemuan ketiga siklus I (100 %), dan pertemuan keempat siklus I (100 %).

B.         Saran

1.       Bagi Guru/ Pendidik

Pembelajaran agar dapat berjalan maksimal harus disertai dengan berbagai metode pembelajaran sehingga akan memotivasi siswa untuk lebih menggali potensi yang ada pada dirinya dan memudahkan siswa untuk dapat memahami materi dengan cepat.

2.       Bagi Siswa

Hendaknya siswa setelah mengikuti proses pembelajaran dengan metode Reading guide dan Diskusi mampu untuk mengaplikasikan dengan pelajaran lainnya dan dalam kehidupan sehari-hari dan tidak terbatas pada ruang kelas saja.

3.       Bagi Lembaga

Dengan melihat hasil PTK ini diharapkan untuk lebih menggiatkan semangat keprofesionalan para guru di SMAN I Babadan Ponorogo untuk selalu ber-PTK dalam proses pembelajarannya, sehingga PTK menyatu dengan jiwa dan cita-cita lembaga dalam memajukan pendidikan sesuai visi, misi, dan tujuan sekolah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik et. al. Metodologi Penelitian Agama Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Tiarawacana, 1989.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003.

As’adie, Basuki. Desain Pembelajaran Berbasis PTK, Cara Mudah Menerapkan Langkah-Langkah PTK Dalam Kegiatan Pembelajaran Di Kelas. Ponorogo: STAIN PO Press, 2009.

Aqib, Zainal. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru. Bandung: CV. Yrama Widya, 2007.

Depag RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1986.

Hadis, Abdul. Psikologi Dalam Pendidikan. Bandung:  Alfabeta, 2006.

Jamarah, Saiful Bahri dan Zain, Aswan. Stategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta, 1995.

Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2000.

Muhaimin, et.al., Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan PAI di Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002.

Narbuko, Cholid dan Ahmadi, Abu. Metodologi Penelitian.  Jakarta: Bumi aksara, 2006.

Nasar. Merancang Pembelajaran Aktif dan Kontekstual berdasarkan sisko 2006, Panduan Praktis Silabus dan RPP. Jakarta: Grasindo, 2006.

Prodi PAI dan Bahasa Arab, Modul 4 : Pembelajaran Berbasis PTK. Ponorogo: STAIN Press, 2008.

Poerwati, Endang dan Widodo,  Nur. Perkembangan Peserta Didik. Malang: UUM Press, 2002.

Purwanto, Ngalim. Psikologi Pendidikan, cet. 17. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.

Suryasubrata, Sumadi. Metodologi Penelitian. Jakarta: CV. Rajawali, 1983.

Syah, Muhibin. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003.

Uno, Hamzah B. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006.

Yudi Prahara, Erwin. Buku Paket Materi PAI. Ponorogo: STAIN Po, 2008.

Zaini, Hisyam; Munthe, Bermawy; Aryani, Sekar Ayu. Strategi Pembelajaran Aktif Di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: CTSD, 2002.

 

LAMPIRAN

  • RPP I, RPP II, RPP III dan  RPP IV
  • Transkrip hasil pengamatan kegiatan pembelajaran RPP I, RPP II, RPP III dan RPP IV
  • Catatan feedback dari guru pamong dan siswa/ siswi kelas yang diajar
  • Dll.

[1] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, cet. 17 (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), 100 -101.

[2] Nasar, Merancang Pembelajaran Aktif dan Kontekstual berdasarkan sisko 2006, Panduan Praktis Silabus dan RPP (Jakarta: Grasindo, 2006), 31.

[3] Hamzah B. Uno, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006), 54.

[4] Abdul Hadis, Psikologi Dalam Pendidikan (Bandung:  Alfabeta, 2006), 69.

[5] Hamzah B. Uno, Orientasi Baru…, 14.

[6] Abdul Hadis, Psikologi…, 70.

[7] Sumadi Suryasubrata, Metodologi Penelitian (_Jakarta: CV. Rajawali, 1983), 75.

[8] Prodi PAI dan Bahasa Arab, Modul 4 : Pembelajaran Berbasis PTK (Ponorogo: STAIN Press, 2008), 47.

[9] Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi, Metodologi Penelitian,  (Jakarta: Bumi aksara, 2006), hal. 83.

[10] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003), 225.

[11] Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi, Metodologi…,  70.

[12]Taufik Abdullah, et.al., Metodologi Penelitian Agama Sebuah Pengantar (Yogyakarta: Tiarawacana, 1989), 7.

[13] Prodi PAI dan Bahasa Arab, Modul 4 : Pembelajaran …, 48.

[14] Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2000), 280.

[15] Zainal Aqib, Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru (Bandung: CV. Yrama Widya, 2007), 106.

[16] Basuki As’adie, Desain Pembelajaran Berbasis PTK, Cara Mudah Menerapkan Langkah-Langkah PTK Dalam Kegiatan Pembelajaran Di Kelas (Ponorogo: STAIN PO Press, 2009), 2.

[17] Zainal Aqib, Penelitian Tindakan…., 18.

[18] Saiful Bahri Jamarah dan Aswan Zain, Stategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), 44.

[19] Ibid., 109-110.

[20] Ibid.

[21] Ibid., 107-108.

[22] Ibid.

[23] Ibid., 99.

[24] Ibid., 99-100.

[25] Hisyam Zaini, Bermawy Munthe, Sekar Ayu Aryani, Strategi Pembelajaran Aktif Di Perguruan Tinggi (Yogyakarta: CTSD, 2002), 8-9.

[26] Ibid., 56-57.

[27] Depag RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1986), 636.

[28] R. Ibrahim dan Nana Syaodih, Perencanaan Pengajaran.., 73.

[29] Nasar, Merancang Pembelajaran Aktif dan Kontekstual berdasarkan sisko 2006, Panduan Praktis Silabus dan RPP (Jakarta: Grasindo, 2006), 31.

[30] Endang Poerwati dan Nur Widodo, Perkembangan Peserta Didik (Malang: UUM Press, 2002), 21.

[31] Muhibin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), 52.

[32] Muhaimin, et.al., Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan PAI di Sekolah (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002), 75-76.

[33] Erwin Yudi Prahara, Buku Paket Materi PAI (Ponorogo: STAIN Po, 2008), 3.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: