Jumaristoho's Blog

Just another WordPress.com site

Industri

INDUSTRI

Sejarah

Industri berawal dari pekerjaan tukang atau juru. Sesudah matapencaharian hidup berpindah-pindah sebagai pemetik hasil bumi, pemburu dan nelayan di zaman purba, manusia tinggal menetap, membangun rumah dan mengolah tanah dengan bertani dan berkebun serta beternak. Kebutuhan mereka berkembang misalnya untuk mendapatkan alat pemetik hasil bumi, alat berburu, alat menangkap ikan, alat bertani, berkebun, alat untuk menambang sesuatu, bahkan alat untuk berperang serta alat-alat rumah tangga. Para tukang dan juru timbul sebagai sumber alat-alat dan barang-barang yang diperlukan itu. Dari situ mulailah berkembang kerajinan dan pertukangan yang menghasilkan barang-barang kebutuhan. Untuk menjadi pengrajin dan tukang yang baik diadakan pola pendidikan magang, dan untuk menjaga mutu hasil kerajinan dan pertukangan di Eropa dibentuk berbagai gilda (perhimpunan tukang dan juru sebagai cikal bakal berbagai asosiasi sekarang).

 

Pertambangan besi dan baja mengalami kemajuan pesat pada abad pertengahan. Selanjutnya pertambangan bahan bakar seperti batubara, minyak bumi dan gas maju pesat pula. Kedua hal itu memacu kemajuan teknologi permesinan, dimulai dengan penemuan mesin uap yang selanjutnya membuka jalan pada pembuatan dan perdagangan barang secara besar-besaran dan massal pada akhir abad 18 dan awal abad 19. Mulanya timbul pabrik-pabrik tekstil (Lille dan Manchester) dan kereta api, lalu industri baja (Essen) dan galangan kapal, pabrik mobil (Detroit), pabrik alumunium. Dari kebutuhan akan pewarnaan dalam pabrik-pabrik tekstil berkembang industri kimia dan farmasi. Terjadilah Revolusi Industri.

 

Sejak itu gelombang industrialisasi berupa pendirian pabrik-pabrik produksi barang secara massal, pemanfaatan tenaga buruh, dengan cepat melanda seluruh dunia, berbenturan dengan upaya tradisional di bidang pertanian (agrikultur). Sejak itu timbul berbagai penggolongan ragam industri.

Industri adalah bidang matapencaharian yang menggunakan ketrampilan dan ketekunan kerja (bahasa Inggris: industrious) dan penggunaan alat-alat di bidang pengolahan hasil-hasil bumi dan distribusinya sebagai dasarnya. Maka industri umumnya dikenal sebagai mata rantai selanjutnya dari usaha-usaha mencukupi kebutuhan (ekonomi) yang berhubungan dengan bumi, yaitu sesudah pertanian, perkebunan dan pertambangan yang berhubungan erat dengan tanah. Kedudukan industri semakin jauh dari tanah, yang merupakan basis ekonomi, budaya dan politik.

 

Cabang-cabang industri

Berikut adalah berbagai industri yang ada di Indonesia:

* Makanan dan minuman

* Tembakau

* Tekstil

* Pakaian jadi

* Kulit dan barang dari kulit

* Kayu, barang dari kayu, dan anyaman

* Kertas dan barang dari kertas

* Penerbitan, percetakan, dan reproduksi

* Batu bara, minyak dan gas bumi, dan bahan bakar dari nuklir

* Kimia dan barang-barang dari bahan kimia

* Karet dan barang-barang dari plastik

* Barang galian bukan logam

* Logam dasar

* Barang-barang dari logam dan peralatannya

* Mesin dan perlengkapannya

* Peralatan kantor, akuntansi, dan pengolahan data

* Mesin listrik lainnya dan perlengkapannya

* Radio, televisi, dan peralatan komunikasi

* Peralatan kedokteran, alat ukur, navigasi, optik, dan jam

* Kendaraan bermotor

* Alat angkutan lainnya

* Furniture dan industri pengolahan lainnya

 

Klasifikasi berdasarkan SK Menteri Perindustrian No.19/M/I/1986

  1. Industri kimia dasar : misalnya industri semen, obat-obatan, kertas, pupuk, dsb
  2. Industri mesin dan logam dasar : misalnya industri pesawat terbang, kendaraan bermotor, tekstil, dll
  3. Industri kecil : industri roti, kompor minyak, makanan ringan, es, minyak goreng curah, dll
  4. Aneka industri : industri pakaian, industri makanan dan minuman, dan lain-lain.

 

Memacu Pertumbuhan Industri di Indonesia

Memacu pertumbuhan industri di negara indonesia ini agaknya memang sulit. Tapi hal itu bahkan tidak disadari oleh pemerintah Indonesia.Pemerintah ingin Bidang Industri sebagai penopang ekonomi di Indonesia, tapi nyatanya sejak krisis moneter di indonesia sejak tahun 1996 sampai 1998 lalu, mengakibatkan Sektor Industri di Indonesia tampak loyo. Meskipun setelah tahun 1998 sektor industri cukup berkembang sedikit demi sedikit, tapi hal itu belum bisa mengembalikan sektor industri Indonesia seperti sedia kala. Bahkan di tahun ini pun yaitu tahun 2008 pemerintah menginginkan kenaikan pertumbuhan industri hingga 8,6%. Namun bisakah hal itu terwujud ? Penanaman investasi modal ke Indonesia akhir-akhir ini juga semakin menurun. Hal itu disebabkan biaya tinggi dalam proses perizinan, pemasaran produk, stabilitas keamanan di wilayah Indonesia dan kepastian hukum. Banyaknya barang selundupan juga menjadi momok yang menyebabkan barang-barang dalam negeri kalah bersaing. Untuk memacu pertumbuhan perindustrian di Indonesia diperlukan sebuah kerja keras dari semua pihak .

 

 

Referensi

  1. Alvin Toffler, 1971, Future Shock. Bantam Books.
  2. Alvin Toffler, 1980, The Third Wave. William Morrow and Companies.
  3. BPS, Nilai Tambah Menurut Sub Sektor 2001-2008 (Statistik Industri)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: