Jumaristoho's Blog

Just another WordPress.com site

Kredit dalam Perekonomian

Pendahuluan .

Kata “ kredit “ berasal dari bahasa latin credere yang berarti percaya atau to believe atau to trust. Oleh karena itu , dasar pemikiran persetujuan pemberian kredit oleh suatu lembaga keuangan / bank kepada seseorang atau badan usaha berlandaskan kepercayaan (faith) .

Bila dikaitkan dengan kegiatan usaha , kredit berarti suatu kegiatan memberikan nilai ekonomi kepada seseorang atau badan usaha berlandaskan kepercayaan saat itu , bahwa nilai ekonomi yang sama akan dikembalikan kepada kreditur (bank) setelah jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan yang sudah disetujui antara kreditur (bank) dan debitur (user) .

Sedang dalam pengertian nasional sesuai UU No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan , kredit adalah  :

“Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu , berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga , imbalan atau pembagian hasil keuntungan .”

 

 

ISI .

Unsur-unsur kredit.

Dalam pengertian kredit tersebut diatas terkandung unsur-unsur kredit itu sendiri , yaitu unsur :

  1. Waktu , yang menyatakan bahwa ada jarak antara saat persetujuan pemberian kredit dan pelunasannya .
  2. Kepercayaan , yang melandasi pemberian kredit oleh pihak kreditur kepada debitur , bahwa setelah jangka waktu tertentu debitur akan mengembalikannya sesuai kesepakatan yang disetujui oleh kedua pihak .
  3. Penyerahan , yang menyatakan bahwa pihak kreditur menyerahkan nilai ekonomi kepada debitur yang harus dikembalikannya setelah jatuh tempo .
  4. Risiko ,  yang menyatakan adanya risiko yang mungkin timbul sepanjang jarak antara saat memberikan dan pelunasaanya .
  5. Persetujuan / perjanjian , yang menyatakn bahwa antara kreditur dan debitur terdapat suatu persetujuan dan dibuktikan oleh suatu perjanjian .

Sasaran Kegiatan Perkreditan

Sebagai salah satu unit usaha , proses kegiatan perkreditan merupakan usaha  untuk mencapai sasaran kredit itu sendiri , yang berupaya untuk :

  1. Memelihara keamanannya, yaitu bank harus menerima kembali nilai ekonomi setelah jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian .
  2. Penggunaanya terarah, yaitu kredit tersebut sungguh sungguh dipakai oleh debitur sesuai perencanaan perusahaan untuk meningkatkan kinerja kegiatan usaha dan terbukti sampai pada objek kredit.
  3. Mendatangkan hasil usaha , yaitu memberikan hasil lebih kepada bank , debitur dan otorita moneter , sehingga mampu menimbulkan backward dan foreward linkage kepada masyarakat luas.

Tujuan Perkreditan

Perkreditan melibatkan beberapa pihak: kreditur (bank), debitur (penerima kredit), otorita moneter , dan bahkan masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, tujuan perkreditan berbeda-beda dan tergantung pada pihak – pihak tersebut .

  1. Bagi kreditur (Bank) :
  • Perkreditan merupakan sumber utama pendapatannya .
  • Pemberian kredit meupakan perangsang pemasaran produk produk lainnya dalam persaingan.
  • Perkreditan merupakan instrumen penjaga likuiditas, solvabilitas dan profitabilitas bank .
  1. Bagi Debitur :
  • Kredit berfungsi sebagai sarana untuk membuat kegiatan usaha makin lancar dan kinerja usaha semakin baik daripada sebelumnya.
  • Kredit meningkatkan minat berusaha dan keuntungan sebagai jaminan kelanjutan kehidupan perusahaan .
  • Kredit memperluas kesempatan berusaha dan bekerja dalam perusahaaan.
  1. Bagi Otorita :
  • Kredit berfungsi sebagai instrument moneter.
  • Kredit berfungsi untuk menciptakan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja yang memperluas sumber pendapatan dan kemungkinan membuka sumber sumber pendapatan Negara.
  • Kredit berfungsi sebagai instrumen untuk ikut serta meningkatkan mutu manajemen dunia usaha , sehingga terjadi efisiensi dan mengurangi pemborosan di semua lini.
  1. Bagi Masyarakat :
  • Kredit dapat menimbulkan backward dan foreward linkage dalam kehidupan perekonomian .
  • Kredit mengurangi pengangguran , karena membuka peluang usaha , bekerja dan pemerataan pendapatan.
  • Kredit meningkatkan fungsi pasar, karena ada peningkatan daya beli.

Kredit yang perlu dihindari

Tidak semua sektor ekonomi dan kegiatan usaha dapat dibantu pembiayaaannya dengan kredit , karena ada diantaranya yang justru perlu dihindari , antara lain :

  1. Kredit untuk tujuan spekulasi (perjudian).
  2. Kredit untuk usaha tanpa informasi keuangan.
  3. Kredit untuk usaha yang memerlukan keahlian khusus , dimana bank tidak punya.
  4. Kredit untuk usaha yang telah bermasalah/macet/plafondering .

 

Tata cara penilaian mutu kredit

  1. Kredit lancar , yaitu kredit yang pembayaran pokok angsuran , bunga,  biaya serta seluruh dana yang ditanamkan diterima kembali sebelum 3 bulan sesuai dengan ketentuan jenis kredit masing- masing.
  2. Kredit kurang lancar , yaitu bila pembayaran – pembayaran wajib tesebut melewati jangka waktu 3 bulan , tetapi tidak melampaui 6 bulan tetapi masih kurang dari 12 bulan , untuk setiap jenis kredit.
  3. Kredit diragukan , yaitu bila pembayaran –pembatyaran wajib tersebut melewati 6 bulan , tetapi masih kurang dari 12 bulan , untuk setiap jenis kredit.
  4. Kredit macet , yaitu bila pembayaran –pembayaran wajib melewati 12 bulan . Jika melampaui 21 bulan , kredit macet tersebut harus dikeluarkan dari portfolio kredit bank tersebut (neraca) dan masuk portfolio kredit yang dihapusbukukan .

Persetujuan Pencairan Kredit

Dalam setiap pencairan kredit harus terjamin azas aman , terarah dan produktif . Oleh karena itu pencairan tersebut harus mempunyai landasan pokok sebagai berikut :

  1. Bank hanya menyetujui pencairan kredit , baik seluruh  syarat yang diterapkan dalam persetujuan , kemudian dituangkan dalam perjanjian kredit telah dipenuhi oleh pemohon kredit .
  2. Bank harus telah memastikan bahwa seluruh aspek yuridis yang terkait dalam persetujuan kredit telah dipenuhi /diselesaikan dan telah efektif memberi perlindungan yang memadai bagi bank.
  3. Landasan lainnya bila diperlukan .

 

 

Kesimpulan

Kegiatan perkreditan (berupa bunga, komisi, dan profit) tetap menjadi sumber pendapatan utama bagi bank komersial , sekalipun memiliki sumber pendapatan lain dari proses pendanaan dan jasa –jasa perbankan .

Kita menyaksikan banyak sekali pelanggaran rambu-rambu perbankan , terutama tentang likuiditas , solvabilitas, profitabilitas, maupun manajemen , sehingga kita menghadapi penyelesaian kredit bermasalah . Memonitoring dan pengawasan kredit sangat perlu menggunakan sistem peringatan dini , yang mampu mengantisipasi sinyal-sinyal penyimpangan dari syarat –syarat kesepakatan bank dengan debitur .

Setiap langkah kegiatan usaha untuk mencapai suatu tujuan , baik keuntungan material maupun keuntungan nonmaterial sebaiknya dimulai dengan suatu persiapan perencanaan yang matang. Sehingga ada hubungan simbiosa mutualisme antara bank dengan debitur , demi mencapai suatu tujuan yang baik .

 

Sumber :

Moh. Tjoekam , Beberapa diktat LPPI/IBI 1998-1996  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: