Jumaristoho's Blog

Just another WordPress.com site

Apa Itu Sikap Ilmiah..?

Sikap Ilmiah  adalah  Salah satu aspek tujuan dalam mempelajari ilmu alamiah adalah pembentukan sikap ilmiah. Orang yang berkecimpung dalam ilmu alamiah akan terbentuk sikap ilmiah yang antara lain ialah :

1)      Jujur

Seorang ilmuan wajib melaporkan hasil pengamatannya secara objektif. Seorang ilmuwan dalam kehidupan sehari-hari mungkin saja  tidak lebih jujur dari manusia lainnya. Tetapi dalam penelaan ilmiah ada hal-hal yang memaksa pada ilmuwan, yakni yang kita sebut faktor kontrol.

Disamping kontrol internal ada pula kontrol eksternal. Dalam hal ini ilmuwan lain akan mengulangi penelitian ilmuan pertama dengan kondisi yang di buat serupa. Seterusnya ilmuan ketiga dapat pula menguji penelitian di atas. Karena itu laporan ilmuan haruslah sejujur-jujurnya dan penelitian menjadi terbuka untuk pengulangan. Memang seorang ilmuan harus jujur dalam melaksanakan laporan penelitiannya.

2)      Terbuka

Seorang ahli endokrinologi (ilmu kelenjaran dalam) untuk hewan amfibia, john cortelyou telah dipih sebagai sekretarissuatu organisasi ini khusus di didirikan bagi ilmuwan katolik. Tindakan pertama yang dilakukan John Cortelyou ialah membubarkan jawaban ia berkata, “Tidak ada kodok katolik di dunia ini”.

Seorang ilmuwan mempunyai pandangan luas, terbuka, bebas praduga. Ia  meyakini bahwa prasangka, kebencian baik pribadi maupun golongan dan pembunuhan adalah sangat kejam. Ia tidak akan berusaha memperoleh dugaan bagi buah pikirannya atas dasar prasangka. Ia akan terus berusaha mengetahui kebenaran tentang alam, materi, moral, politik, ekonomi, dan tentang hidup. Ia tidak akan meremehkan suatu gagasan baru. Ia akan mengerhagai setiap gagasan baru dan menguji sebelum di terima atau di tolak.jadi ia terbuka akan pendapat orang lain.

3)      Toleran

Seorang ilmuan tidak merasa bahwa ia paling hebat. Ia bahkan bersedia mengakui bahwa orang lain mungkin lebih banyak pengetahuannya, bahwa pendapatnya mungkin saja bersedia menerima gagasan orang lain setelah diuji. Dalam usaha menambah ilmu ia bersedia belajar dari orang lain. Ia tidak akan memaksakan pendapatnya dengan orang lain. Ia tidak akan memaksakan pendapatnya dengan orang lain. Ia dari sikap angkuh.

4)      Skeptis

Ilmuwan pencari kebenaran akan bersikap hati-hati, meragui, skeptis. Ia akan menyelidiki bukti-bukti yang melatarblakangi suatu kesimpulan. Ia tidak akan sinis tetapi kritis untuk memperoleh data yang menjadi dasar suatu kesimpulan tanpa bukti-bukti yang kuat.

Sikap skeptis ini perlu dikembangkan oleh orang yang berniat memecahkan masalah. Bila ia tidak kritis mengenai setiap informasi yang ia peroleh, mungkin ada informasi yang ia peroleh, mungkin ada informasi yang salah hingga menimbulkan akibat suatu kesumpulan yang salah. Karena itu, setiap informasi perlu diuji kebenarannya perlu dicek. Informasi memerlukan verifikasi. Setelah bukti-bukti cukup, ilmuwan baru boleh mengambil kesimpulan dan akhirnya memberikan keputusan.

5)      Optimis

Seorang ilmuwan selalu berpengharapan baik. Ia tidak akan berkata bahwa sesuatu itu tidak dapat dikerjakan tetapi akan mengatakan, “berikan saya sesuatu kesempatan untuk memikirkan dan mencoba mengerjakan”. Ia selalu optimis.

Rasa humor seorang ilmuwan ada hubungannya dengan tingkat kecerdasan maupun sikap optimis seseorang. John Von Neuman seorang ahli matematika ditugaskan membuat komputer untuk perhitungan yang diperlukan sewaktu membuat bom hidrogen. Setelah selesai pesawat itu diserahkan dan dicoba di gunakan, maka alat itu ia beri nama mathematichal analyzer,Numerical Integrator and Computer, di singkat MANIAC.

6)      Pemberani

Ilmu merupakan hasil usaha keras dan sifat personal. Ilmuwan sebagai pencari kebenaran akan berani melawan semua ketidakbenaran, penipuan, kepura-puraan, kemunafikan, dan kebatilan yang akan menghambat kemajuan.

Keberanian Copernicus, Galileo, dan Socrates telah banyak di ketahui orang. Copernicus dan Galileo disisihkan karena tidak mempercayai bahwa bumiadalah pusat alam semesta; tetapi menganggap mataharilah yang menjadi pusat tempat bumi dan planet-planet lainnya berputar. Socrates memilih mati meminum racun dari pada menerima hal salah.

Profesor Peabody memberikan kuliah terakhir tentang “perawatan orang sakit”. Kuliah ini sangat jelas, penuh rasa belas kasih, sehingga berkali-kali dicetak ulang. Pada saat kuliah itu ia baru berumur 46 tahun,segar bugar kelihatannya. Uraian kuliahnya sangat berisi, cermat, dan disampaikan dengan pasih. Pendengaranya tidak mengetahui bahwa dibalk ketenangan itu peabody mengidap kanker ganas yang yang telah di derita, di tekuni, dan dipahami sepenuh arti medis mengenai setiap gejala kanker yang dialaminya. Sehari sebelum ia meninggal ia menulis sendiri laporan penyakitnya. Itulah ketabahan ilmuwan yang dapat ditunjukan.

7)      Kreatif

Ilmuwan dalam mengembangkan ilmunya kreatif. Louis AL-Veres, ilmuwan fisika Berkeley, juga peman golf, mengkreasi “analisator stroboskop” untuk meningkatkan cara bermain golf. Dengan alat itu pada pemukulan dapat diteliti. Kepada Presiden Eisen Hower, yang juga terkenal pemain golf, ia menghadiahkan alat serupa. Sejak itu ia memegang peten untuk pembuatan analisator stroboskop tadi.

 

Sikap Ilmiah Penelitian

1. Sikap Ingin Tahu
Sikap bertanya/penasaran (bukan sok tahu) terhadap sesuatu, karena mungkin ada hal-hal/bagian-bagian/unsur-unsur yang gelap, yang tidak wajar, atau ada kesenjangan.

2. Skeptis
Bersikap ragu-ragu terhadap pernyataan-pernyataan yang belum cukup kuat dasar-dasar pembuktiannya.

3. Kritis
Cakap menunjukkan batas-batas suatu soal, mampu membuat perumusan masalah, mampu menunjukkan perbedaan dan persamaan sesuatu hal dibanding dengan yang lainnya (komparatif), cakap menempatkan suatu pengertian pada kedudukannya yang tepat.

4. Obyektif
Mementingkan peninjauan tentang obyeknya; pengaruh subyek perlu dikesampingkan meskipun tidak sepenuhnya. Dengan kata lain memang tidak mungkin mencapai obyektivitas yang mutlak.

5. “Free From Etique?”
Memang benar bahwa ilmu itu nomologis, yaitu mempunyai tugas menilai apa yang benar dan apa yang salah.
Adapun sikap budi pekerti tambahan
1. Tabah hati Sabar dan tawakal dalam segala kesukaran.
2. Keras hati Berminat/berhasrat dan bersemangat.
3. Rendah hati Seperti ilmu padi, kian menunduk kian berisi.
4. Jujur Tidak melakukan apa yang salah/buruk, melainkan mengamalkan apa yang benar dan apa yang baik. 5. Toleran Menenggang/menghargai pendapat/pandangan/pikiran orang lain meski bertentangan dengan pendiriannya, kemudian berupaya untuk mencapai mufakat/kesamaan pandang.

Sumber :

Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian Prof. Dr. Ir. Soetriono, MP. dan Dr. Ir. SRDm Rita Hanafie, MP ANDI 2007

http://novtani.wordpress.com/2012/06/05/metode-ilmiah/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: